Sabtu, 14 Januari 2023
Desa untuk kaya rasa
Kamis, 12 Januari 2023
19 tahun batas usia perkawinan
372 dan 340 dst, angka yang bisa buat kita sengsara, maka hindari
Senin, 03 Oktober 2022
Laga satu dihentikan satu pemain merumput di taro’an
Senin, 29 Agustus 2022
Kembalilah pada petunjuk Allah
Minggu, 14 Agustus 2022
Menangislah karena kau tak baik
Sabtu, 13 Agustus 2022
Menyulam gelap malam
Jumat, 12 Agustus 2022
Terimakasih pemerintah RI yang baik hati
2019 awal mula munculnya wabah yang dikenal dengan sebutan covid 19, untuk penjelasan nama tersebut. Penulis rasa sudah tidak perlu untuk dijelaskan, karena pada dasarnya itu sudah menjadi pengertian umum karena sering diperbincangkan pada mulanya.
Akan tetapi yang jelas di angka 19 wabah itu seolah masyarakat menganggap penyakit ringan yang mudah untuk diobati, padahal pemerintah dari berbagai lini mengumumkan jika penyakit tersebut merupakan ancaman bagi jiwa setiap manusia, sampai-sampai terperinci tentang batas-batas resiko rentan dan tidak rentan untuk terjangkit.
Tapi begitulah masyarakat disuasana demokrasi, maka persepsi masih harus di tuntasnya dengan argimentasi, dilanjutkan dengan asumsi bahkan bisa-bisa berakhir pada basa-basi.
Tapi bukan dalam wilayah ingin menyalahkan demokrasi, hanya saja lakonnya yang tidak bisa memposisikan dirinya sebagai peegang amanah azas demokrasi. Alhasil terkesan bablasan keluar jalur lintasan yang seharunya.
Kembali kepada angka 19 yang hubungannya sangat erat dengan penyakit, di angka itu memang tidak begitu membuat keadaan kalang kabut, sebab masyarat pada umumnya masih belum terdampak langsung. Hanya dibeberapa bagian wilayah saja, yang itu masih dianggap hoax saat ada acara perbincangan santai di warung kopi, akan tetapi pada kenyataannya saat mulai merasakan langsung keberadaan wabah, dengan datangnya berita kematian dalam setiap harinya bergantian, baru masyarakat percaya dan menuruti anjuran pemerintah.
Selain sadar karena banyaknya berita duka, ternyata dampak yang sangat signifikan yaitu lumpuhnya perekonomian yang sangat mencekam. Mencekam yang dimaksudkan yaitu ekonomi lumpuh disemua sektor, tidak memilih ruang makro bahkan mekropun ikut juga lumpuh dan bahkan bisa dikatakan mati suri.
Tapi alhasil berkat ketelatenan pemerintah dengan menerapkan aturan PPKM, yang awalnya diterima setengah hati oleh masyarakat. Tapi berkat tekat pemerintah dalam peraturannya yang terus digencarkan dengan ragam panismen pula. Alhasil diangka 2022 masyarakat mendapatkan angin segar, yaitu ekonomi kembali tumbuh berangsur dan masyarakat bisa kembali tersenyum lebar.
Rabu, 10 November 2021
Sekelumit rasa yang tak bersisa
Pekan hitungan jari yang tak perlu mengernyitkan dahi dan menyatukan garis alis, karena dengan jari tanpa mesin penghitung Hindia Belanda sudah bisa teratasi.
Antara angka satu samapai dengan tujuh begitu bilangan singkat, yang seyogyanya di perintahkan untuk mengikrarkan demi masa dalam firman Allah "Wal asyrih" red Qur'an, begitu berharganya waktu karena di dalamnya terdapat banyak peristiwa.
Peristiwa yang harus kita akui kebenarannya dan kita yakini ke fanaannya, karena waktu adalah hitungan yang berjalan bergandengan dengan ruh, lahir dan akal.
Mengkompilasi jadi satu, butuh meditasi dan elaborasi untuk mengecap hikmah atas segala peristiwa yang ia lalui, dari ruh, lahir dan akal, ada satu yang paling mendominasi yaitu nafsu, nafsupun terbagi menjadi dua yaitu baik dan buruk.
Tentu tentu para jiwa-jiwa yang tenanglah yang bisa memilih pijakan Arif, pijakan untuk menentukan arah dan tujuan dari langkah yang tertatih.
Beruntunglah ia yang cendrung untuk menyemai senyup dan mengungkap derita menjadi cita masa, masa yang harus baik untuk kebaikan yang jauh lebih baik.
Dan tepuruklah bagi ia yang haturkan sedih tangis dan raungan nestapa hingga derita menjadi senja yang habis di lumat gelap setiba malam menjemput mentari di ufuk barat.
Jiwa-jiwa yang tentram, berilah ia cinta karena cinta pelipur lara hati bagi negeri yang gersang hanya tumbuh batang kaktus berduri yang mencerabut hati dari manisnya madu.
Ikrarkanlan bahwa hati butuh cinta damai butuh kasih dan rangkulan buah dari leluasanya mahligai.
Senin, 27 September 2021
Negeri ku ngeri.
Negeri yang mulai ngeri, kadang benar bahwa semakin dewasa tak menjamin mental semakin menua, bahkan kadang semakin kenak-kanakan.
Kenak-kanakan yang dimaksudkan yaitu sikap dan sifat yang tak stabil, suka mengadu dan mengeluh karena takut hargadirinya di rasa akan jatuh.
Padahal itu hanya kritik dan bahkan kritik jenaka semata, mereka yang mengkritik karena karena merasa memang sudah haknya karena sudah kadung memberikan kepercayaan dan curiga sedikit di bohongi dan bahkan dikhianati.
Dapat diartikan mereka yang di kritik cendrung karena iseng, sebab tidak ada pekerjaan. Karena mencari pekerjaan sangat sulit dan kalaupun ada tidak dapat dijangkau karena persyaratan yang ketat dengan syarat-syarat administratif yang sudah legal masih saja harus kembali di legalisir, artinya barang yang sudah sakral masih harus lebih di sakralkan, sebegitu cutigakah pada mereka yang memang sudah lama bertapa di bangku belajar dan berjuang untuk mendapatkan selembar kertas syarat untuk mendapatkan rezeki.
Tapi masih saja iya si iseng dan usil, masih harus menuai cerita kekecewaan, saat semua sudah lengkap sebagaimana melewati hal sakral kembali disakralkan, di perlintasan saja ternyata harus terhenti karena adanya telikung dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, sehingga harus gigit jari, karena tidak kebagian bangku yang harusnya harga tiketnya murah dan terjangkau menjadi setinggi langit sampai tak tersisa baginya yang hanya memiliki pikiran "pintar" tapi kurang modal, dalam candaan warung kopi, yang anak konglomerat tak boleh melarat, sedangkan si konglomrat cendrung membuat si melarat sekarat.
Namun opsi tersebut tidaklah terjadi pada negeri hari ini, itu adalah propaganda pada orde sebelum 014, entah di tahun keberapa sudah lupa, untuk era kekinian hanya tersisa momok saja, sebab dari himpunan beberapa cerita hari ini si melarat punya peluang untuk jadi konglomrat murni.
Harapannya semoga terus berlanjut untuk merajut negeri yang di cita-citakan, yaitu negeri yang penuh dengan kedamaian dan perdamaian abadi, negeri yang adil dan memberikan rasa makmur bagi mereka yang menghirup udara dan bercocok tanam diatas tanah yang terhampar luas.
Kalaupun hari ini masih banyak kebingungan-kebingungan yang timbul karena sembrautnya informasi, yang tampaknya cendrung saling fitnah. Indikasinya karena kebanyakan dari lakon ingin dinobatkan sebagai yang terbaik, padahal sudah sering di ucapkan oleh guru bangsa almarhum Abdur Rahman Wahid "biar sejarah yang membuktikan". Dalam pemahan awam penulis tidak perlu memaksakan diri untuk menyatakan saya yang terbaik, karena mengacu pada beberapa litaratur ilmu sosiologi. Semakin seseorang mengaku dirinya yang terbaik maka cendrung dia adalah yang terburuk.
Untuk itu di era digital ini akan sangat bahaya jika kita terlalu cepat mengambil kesimpulan atas benar dan salahnya seseorang, jauh lebih dewasa apabila kita melakukan tabayun, atau menghimpun informasi banyak mungkin untuk menghakimi seseorang, sebab bilamana kita gegabah maka kita akan menyesal dan menyatakan oh......ternyata benar dia dan ternyata lebih baik zaman dia.
Sebilah pisau sisakan luka abadi.
Ilma kompas dan pembebas dari kebatilan
Ilma aku berjalan tertatih menuju mu dengan penuh keterbatasan, berjalan telanjang kaki menapaki panas aspal saat terik tengah hari demi me...
-
Khouf, kini aku dalam renung malam sendiri menatap langit dengan hiasan gemintang, sunyi menjadi saksi dan hembus angin sebagai singgasana ...
-
Ilma aku berjalan tertatih menuju mu dengan penuh keterbatasan, berjalan telanjang kaki menapaki panas aspal saat terik tengah hari demi me...



