Berjalan beriringan teratur, tidak akan adil jika terdapat ketimpangan di dalamnya, karena ketimpangan hanya akan menimbulkan keburukan yang berimplikasi pada keterpurukan sejati.
Bilamana hal itu terjadi, maka cita cinta untuk mendapatkan kedamaian dan perdamaian hanyalah menjadi angin lalu, angin yang tak memberikan kesejukan. akan tetapi hiruk pikuklah yang akan menjadikan alam pikir ciptakan ketidak Adilan kepada nurani, nurani yang selalu berkehendak tulus (jujur) terhadap entitas alam kasat mata.
Namun apalah daya. Manusia tidak lepas dari belenggu nafsu, akan sangat mustahi jika ada manusia yang menyatakan tidak memiliki nafsu, karena Tuhan tidak pernah ingkar atas janjinya, yaitu manusia bernafsu adapun malaikat hanya di perintahkan tunduk dan patuh atas perintah Tuhan, tanpa harus mengingkari sedikitpun.
Yang hidup di alam fana pastilah bernafsu setidaknya bernafsu untuk makan dengan permulaan rasa lapar dan dahaga, maka timbulnya dua rasa termaksud atas dorongan nafsu (kehendak). Dengan kehendak itu bilamana tidak bisa mengendalikan dengan sungguh akan timbul keniscayaan untuk nista, tidak berharga Dimata manusia dan akan sangat tersiksa di alam baka kelak, ketika nafas tak lagi di kandung badan, memasuki kehidupan alam kubur dan alam pembalasan.
Maka permintaan yang paling pertama kali diminta ialah kembalikan ke alam dunia, sebagaimana yang di dalilkan di dalam firman-nya, tidak lain hanya ingin membuat utuh kehidupan sosial (sedekah) dan menyempurnakan pengabdian terhadap Tuhan (sholat).
Tapi apalah daya semuanya sudah terlambat, terlambat sejak nafas di kerongkongan, dia manusia yang sudah tak bernyawa dan dimakan ulat tanah, merasakan penyesalan karena kesia-siaan yang tak terhingga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar