Ilma aku berjalan tertatih menuju mu dengan penuh keterbatasan, berjalan telanjang kaki menapaki panas aspal saat terik tengah hari demi menemukanmu dibalik buku buku dan tetuah para cendikia.
Ilma guratan pena tentang mu kulukis penuh rasa untuk lenyapkan dahaga tentang muslihat waktu yang akan terus datang dan berlalu, aku yang selalu ingin mesra dengan mu walaupun dalam keadaan perut keroncong, karena aku menuju dan bersamamu dengan tekat dan terbatasnya bekal.
Ilma kadang aku merasa bingung, cemas, takut dan sedih saat dipersimpangan antara terus menuju mu tapi alam menunjukkan keterbatasan yang teramat terbatas.
Pernah merasa ingin menyerah untuk menggapaimu. Hanya ingi diam metapmu dari jauh dan mendengar namamu dari sayup-sayup hembus angin, tapi aku tak lakukan itu karena aku kembali yakin, bahwa disetiap kesulitan pasti akan datang kemudahan.
Ilma atas dasar keyakinan itu aku terus melaju menuju mu, berjalan dan berlari penuh dengan keyakinan bahwasanya setiap menujumu pasti akan mendapatkan petunjuk untuk kemudahan yang logika takkan mampu menerkanya, sebab ilma adalah logika yang di jamin oleh pemilik dari logika itu sendiri.
Ilma terimakasih telah bersama ku dan telah mengantarkan ku menuju kebaikan-kebaikan seperti yang kau sering katakan di dalam setiap lembar-lembar kertas itu.



