Sebegitu hebatnya aku mengejar dunia, kadang sampai lupa waktu dan larut dalam semangat dorongan nafsu, pagi, siang dan malam seolah tak dapat dibedakan bila terlalu menyatu pada pekerjaan yang seolah akan menghapus rasa dahaga, padahal tidak. Jelas bila kita dahaga pada dunia maka kita ibarat minum air laut, semakin diminum maka akan semakin haus dan terus haus, sedang aku begitu asyik dengannya dan hanya sadar pembeda itu hanyalah sinar terang bias dari matahari.
Begitulah hubbud dun'nya, cinta begitu cintatanya pada dunia akan menimbulkan rasa lelah lalu menyesal, saat ia sadar datangnya sakit, sakit yang membutuhkan perawatan yang begitu intensif, yang begitu banyak harus meluangkan waktu agar beristirahat total, dengan ditemani berbagai merk obat dengan harha yang berfariasi, mulai dari obat warung klontong sampai obat-obat resep dokter ternama yang tentu harganya begitu mahal seolah sekali minum akan sembuh saat iti juga, padahal tidak sembuh bukan karena obat sebab obat hanyalah perantara untuk membantu pikiran agar berfokus bahwa hanya Allah lah yang memiliki keuasaan mutlak untuk menentukan hidup dan matinya setiap mahluk.
Maka begitu menyesalnya aku ketika saat sehat begitu fokus pada pekerjaan dunia, abai atas kewajiban yang akan jadi penenang saat sakit dan perisai saat kematian dan tiba di dalam kubur. Sedang itu aku tak sempat menyisihkan laba dari pengejaran ku pada dunia untuk bersedekah, berinfak dan menabur kan pada benih-benih amal jariyah.
Semua hanya di timbun dalam kartu tipis yang disebut ATM, di dalam dompet takut butuh makan dan haus saat di jalan, dan di kantong celana takut ada acara hura-hura yang butuh menunjukkan entitas bahwa ia telah menjadi bagian dari orang yang sukses materi.
Kalaupun ia ingin berbagi kata lain bersedekah maka ia sulit melakukan kecuali pada saat camera pengintai hidup yang tujuannya untuk memberikan kabar bahwa ia adalah orang baik, murah hati, murah harta lalu mendapatkan julukan sebagai seseorang yang begitu dermawan dan menawan, tidak salah tapi tidak mutlak benar, tapi ada takaran baiknya bila memang ada bersit hati ingin tulus maka islam mengajarkan sebisa mungkin ketika tangan kanan memberi maka sebisa mungkin tidak mngetahui pekerjaan baik tangan kanan, baiknya sedekah (pemberian) dalam benni khofi/syir.







