Kamis, 07 Mei 2026

Ilma kompas dan pembebas dari kebatilan

 Ilma aku berjalan tertatih menuju mu dengan penuh keterbatasan, berjalan telanjang kaki menapaki panas aspal saat terik tengah hari demi menemukanmu dibalik buku buku dan tetuah para cendikia.

Ilma guratan pena tentang mu kulukis penuh rasa untuk lenyapkan dahaga tentang muslihat waktu yang akan terus datang dan berlalu, aku yang selalu ingin mesra dengan mu walaupun dalam keadaan perut keroncong, karena aku menuju dan bersamamu dengan tekat dan terbatasnya bekal.

Ilma kadang aku merasa bingung, cemas, takut dan sedih saat dipersimpangan antara terus menuju mu tapi alam menunjukkan keterbatasan yang teramat terbatas.

Pernah merasa ingin menyerah untuk menggapaimu. Hanya ingi diam metapmu dari jauh dan mendengar namamu dari sayup-sayup hembus angin, tapi aku tak lakukan itu karena aku kembali yakin, bahwa disetiap kesulitan pasti akan datang kemudahan.

Ilma atas dasar keyakinan itu aku terus melaju menuju mu, berjalan dan berlari penuh dengan keyakinan bahwasanya setiap menujumu pasti akan mendapatkan petunjuk untuk kemudahan yang logika takkan mampu menerkanya, sebab ilma adalah logika yang di jamin oleh pemilik dari logika itu sendiri.

Ilma terimakasih telah bersama ku dan telah mengantarkan ku menuju kebaikan-kebaikan seperti yang kau sering katakan di dalam setiap lembar-lembar kertas itu.

Minggu, 03 Mei 2026

Jika semakin dekat dan sangat dekat maka dunia tak lagi jadi arah mu

 Begitulah hidup, dunia bukan tempat untuk menetap hanya tempat singgah sebentar lalu kita pergi lagi jaub dan akan sangat jauh, entah sampai dimana akhirnya hanya pemilik hidup dan alam serta isinya yang maha tahu.

Kadang mengeluh, merasa kalah, bersedih dan bahkan sampai merasa lelah untuk menangis menjadi penghakiman akhir pada diri kita.

Padahal bukan itu makna hidup, hidup ialah berikhtiar berdoa dan tawakkal alallah, merupakan rotasi yang teramat baik dan menyenangkan.

Sebab bilamana hal itu kita lakukan maka kita akan rasakan lapangnya pintu menuju sinar kebajikan dan ringannya langkah kaki menyusuri jalan terjal bebatuan.

Hanya atas pertolongannya kita akan mampu menikmati setiap rasa yang timbul, entah itu rasa pahit, perih, pedih, senang dan bahagia tak terhingga hanya akan menjadi penghias hidup semata.

Jangan pernah jauh darinya sebab ia (Allah) maha pencemburu, ia telah menjamin kita dalam bangun dan tidur kita, tapi kadang kita lebih meluaskan hati untuk sempit dan terhimpit pada urusan dunia, sampai kita mengaharap dari yang hidup dan yang akan mati, benar bila itu terjadi maka kita akan kecewa sekecewa mungkin.

Pasti datang

 Raga begitulah kau tampak dalam siang dan malam, bersolek begitu indah untuk engkau persembahkan pada setiap pasang mata yang terpapas dengannya.

Kadang kau datang dan pergi begitu arogan sehingga membuat ternobat sebagai arogan, dan kadang kau datang dan pergi dengan sanjungan tak terhingga.

Raga iya kau tetaplah raga yang kelak akan tiada lagi harga sebab perginya jiwa yang tak lagi mau bersama seperti sediakala.

Kau akan tertimbun dalam tanah tak akan lagi mampu bersolek dan bercengkrama dengan ragam risalah yang kadang beristilah dan kadang pula tanpa risalah. 

Raga selamatlah di alam sana tenanglah dalam rengkuhan adidaya yang akan meminta pertangung jawabanmu saat engkau berakhir dari fatamorgana yang fana.

Dalam lembaran rasa tak berakhir

 Khouf, kini aku dalam renung malam sendiri menatap langit dengan hiasan gemintang, sunyi menjadi saksi dan hembus angin sebagai singgasana pengantar tanya pada sang pencipta yang ruh dan jiwa kita ada dalam gengamannya.

Khouf, dimana kah kita akan melabuhkan sekoci kecil yang sedang diombang ambing oleh gemuruh ombak, yang membuat samudra merasa iba pada bingung dan deru munajat kita dalam persimpangan rasa.

Kita.........kita.....dan kita yang telah menyambung rasa seolah karsa sampai binasa untuk merengkuh asa. Kini hanya bisa beradu rasa dalam tanya. tapi tak pernah nyata sampai kasat mata kini memburam tak mampu mengenal warna dan rasa.

Khouf masihkah sabar akan menjadi bingkisan pahala, masihkan rindu akan menjadi pembuka pintu syurga, saat kita begitu sangat dahaga untuk berjumpa dalam perjumpaan ihklas saling merengkuh cinta yang begitu agung dan adil.

Oh khouf semoga damai malam ini bisa menjadi terompa dalam langkah kita menyusuri jalan cinta yang berkerikil, menjadi obat luka pada setiap goresan kata yang menghujam gendang telinga dan semoga damai malam itu bisa menjadi tasbih dan tahmid dalam relung hati yang senantiasa meronta untuk mengukuhkan singgasana romantika costmos.

Ilma kompas dan pembebas dari kebatilan

 Ilma aku berjalan tertatih menuju mu dengan penuh keterbatasan, berjalan telanjang kaki menapaki panas aspal saat terik tengah hari demi me...