Jumat, 28 Agustus 2020

Senja di ufuk barat

Maaf aku tak seperti dulu, aku kini telah berlalu, melalui banyak cerita di saksikan oleh bertambahnya umur dan berkurangnya waktu, aku yang Tak membatu, kini menuju restu sang ilahi.
Garis jalan terus aku susuri, tak berharap ada duri tapi pasti kerikil aku harus terka dengan kaki telanjang yang mungkin akan terluka. Luka dalam suka dan luka kadang membawa duka.
Bagiku itu semua bukan penghalang untuk tetap menjemput asa masa demi masa. Karena aku kadang merindukan masalalu tapi bulu kuduk ku berdiri tegak karena disana ada goresan bahagia yang menasbihkan dosa, dosa yang mungkin seribu manusia juga akan rasakan tapi satu manusia yaitu aku yang harus merasa binasa dan putus asa apabila tak berusaha memohon ampunan.
Kini semua sudah menuju senja, garis Mega merah di ufuk barat mulai menyingsing teratur menunjukkan gelap akan menjemput, matahari telah sirna datanglah bulan sebagai penghias bersama bintang gemintang.
Aku yang tak seperti dulu saat menjemput malam sehabis berlarian, becanda ria, bercengkrama bahkan sampai tak mengenal waktu. Kini aku berbeda, jalan ku mulai semaking terjal malamku bersama dingin angin malam yang tubuh tak lagi kebal menerima kehadirannya, sebentar saja tak ku kenakan kain tebal maka tubuh akan terasa hangat dan dahakpun menjadi pengiring.
Aku yang mulai masuk senja binar mata dan gerak bibir tak lagi pantas untuk menikmati dosa. Karenanya pantas aku yang sudah mulai menuju senja berbuatlah kebaikan menuju sang rabb

KESAKSIAN WAKTU



untuk dirimu disana, engkau selalu risau dengan keadaan ini, jarak yang aku ciptakan bukanlah pengingkaran hati untuk hapuskan keabadian rasa dalam ulu hati, semua rasa kisah dan kasih akan selalu tertata rapi dalam naskah penantian ini.
tahun telah kita lalui, gundah menyertai langkah kaki, saat aku jauh melangkah melintasi sebrang. tanya bergemuruh dalam hati dengan lafadz lafadz, haruskah dan bagaimanakah tinta emas penantian panjang akan menggores keringnya daun pisang simpul pengabdian terhadap sang waktu.
sudah tak ada lagi bait-bait puisi yang harus terucap diantara semunya malam dan bisingnya peradaban. hanya ikrar setia untuk selalu menjaga cinta sampai cinta itu kembali pada kodrat keabadian persaksian. 

Sabtu, 08 Agustus 2020

Iman menjamin keamanan

 

Assalamualaikum wr wb, selamat berkreasi, dan beristirahat untuk saudara seiman dan beriman. Izinkan pada kesempatan ini saya menyapa anda sekalian dengan sapaan persaudaraan, sapaan cinta dan kasih dan sapaan untuk selalu mensyukuri atas segala nikmat yang berikan oleh Allah Tuhan kita sekalian. 
Yang perlu kita sadari bahwa kita manusia hanyalah bentuk fana yang dalam hitungan waktu kita akan rasakan hal yang paling kita butuhkan yaitu rasa sehat dan lapangnya waktu. 
Yang masih muda dan punya banyak kesempatan untuk menata hidup guna menjemput takdir maka perlulah kiranya untuk mengelola sehat dan waktu sebaik dan semaksimal mungkin, tentu harus tetap berpegangan pada entitas tertinggi manusia iyalah sabar. Tidak benar harus berputus asa dan menyalahkan suatu peristiwa yang pernah terjadi karena buah dari kelalaian, baiknya dijadikan sabagai media instrospeksi diri agar baik dan lebih baik dari hari kemarin.
Karena hari kemarin adalah hari penuntun untuk mengantarkan kita pada ruas jalan yang sesungguhnya entah jalan yang terjal dan berkelok dan ataukah jalan yang lurus dan baik untuk menyelamatkan kita dari kepedihan.
Dari peristiwa yang lalu. Tidak harus menafikkan peristiwa-peristiwa yang lain. Namun pada kesempatan ini saya akan mendorong untuk berfikir secara khusus untuk belajar dari masa lalu, mempersiapkan perjalanan masa depan dan menikmati jalan yang sedang kita lalui, Arif dan bijak bilamana kita mencatat sejarah bapak dan ibu kita. Karena beliau-beliaulah petunjuk yang sesungguhnya tentang hidup kita, utamanya pelajaran tentang tabah dan sabar yang mungkin kita tidak akan sabar bilamana itu di timpakan pada kita. Logika gampangannya, saat kita masih di bangku sekolah diceritrakan tentang kejamnya masa penjajahan dan kejamnya rezim.
Iya mungkin waktu itu yang tergambar betapa berkeringatnya para pahlawan yang tercatat dalam buku sejarah, tapi saat ini kita tinggikan nilai perjuangan para pahlawan dengan syurah Al Fatihah, dan mari kita juga sejenak berfikir dan seolah ada pada peristiwa itu dan berfikir bagaimana kondisi kakek, nenek, ibu dan bapak kita waktu itu 
Tentu akan terbayang betapa pilunya hidup dimasa itu yang mana hidupnya harus berlindung di gubuk reyot bersama rasa takut akan serangan penjajah yang sesekali bisa saja menghantamkan granat dan menekan pelatuk senjata apinya. 
Selain takut akan serangan ketakutan yang paling nyata takut untuk makan apakah esok lusa dan seterusnya, mengingat hasil bumi dan pekerjaan hanya milik bangsawan para penjajah dan rakyat hanyalah buruh kasar dan bahkan hanya difungsikan sebagai romusa, maka di gambarkan kurus kering dan bahkan ada yang harus mati kelaparan, karena dengan keterpaksaannya hanya makan dedaunan yang hijau bahkan ada yang sudah menguning, faforitnya adalah Aking (singkong yang di potong kecil-kecil dikeringkan).
Sungguh beliau para pendahulu kakek dan nenek, begitupun bapak dan ibu kita benar sudah menjalankan amanat Al Qur'an untuk melawan rasa jhu' (lapar) khauf (takut) dengan tetap berpegang teguh kepada keyakinannya yaitu tetap yakin bahwa Allah lah yang akan senantiasa menciptakan kesedihan menuju kebahagiaan dan akan menciptakan kehidupan menuju kematian. (Al faqir, khoirus).

Senin, 03 Agustus 2020

Tutur kata si mungil yang angkuh dan sombong

Sebait kata terurai diatas putih kertas karena goresan pena. Aku rindu yang tak seharusnya di rindukan, karena aku tak pantas untuk merindu.

Aku terlalu mudah berbohong pada hati, pada hari, pada waktu, pada pemilik dari semua yang aku sebutkan.
Aku hanyalah rintik hujan yang jatuh ke bumi tak ada makna pada dedaunan yang mulai menguning karena gersangnya tanah yang memberikan kehausan begitu berkepanjangan karena panjangnya kemarau.
Aku pendosa penuh noda, tak kan cukup luas dan dalam lautan tuk membasuh dan mensucikan dosa-dosa yang terhina dalam hidupku. Dosa yang bermakna untuk hati yang cendrung akan kehinaan karena belenggu nafsu yang angkuh akan kenikmatan sementara.
Aku yang tak tahu harus memulai dari mana untuk mengungkapkan penyesalan, lafal mungkin sudah tak lagi menghadirkan makna, karena lafal bagian dari syiasat dalam setiap cerita yang telah lalu, sujud, rujuk dan tahmid pun mungkin hanya tak lebih bernilai ritual untuk menggugurkan kewajiban karena takutnya akan siksa neraka.
Entah aku harus memulai dari mana untuk mengilhami ridha' akan dosa-dosa yang telah lalu, karena kebodohan yang terlanjur dan dengan sengaja aku Carikan pembenaran untuk sedikit menenangkan hati yang sesungguhnya selalu berakhir gundah.
Oh tuhan aku hanya rindu ampunan mu, tidaklah aku rindukan yang lainnya. Karena hanya dengan ampunan mu aku akan mengerti nikmatnya menyesali dosa-dosa yang telah lalu, hanya dengan ampunan mu aku akan tenang dalam mengakhiri hayat, dan hanya dengan ampunanmu rindu ini akan terobati kalaupun aku harus tetap memetik buah akan dosa-dosa yang telah lalu 
Tuhan ridha'i tutur dari mahluk mungil ini. akan tetapi penuh dengan kesombongan dan keangkuhan hingga sering ingkar akan nikmat-nikmat yang engkau suguhkan, aku tak lagi membenarkan khilaf manusia jika itu atas dorongan kalap, tuhan aku yang mungil akan mengulangi tutur mungil yang aku anggap sebagai do'a yang semoga engkau limpahkan Rahman dan rahimnya untuk aku yang akan berusaha untuk mengingat tumpukan dosa yang mungkin jauh lebih banyak dari tumpukan sekarung pasir dan bintang gemintang di langit yang luas.
Tuhan tidak ada yang aku rindukan selain ampunan mu, astaufirullah haladzim alladzi lailahaillahuwal halyul qayyum waatubuilaihi.

Selasa, 23 Juni 2020

Tentang rasa

Tentang rasa
Jangan terlalu bersedih atas apa yang engkau rasakan hari ini, sebab semua tak akan pernah tau akan seperti apa esok. Terbit dan terbenam matahari hanyalah kasat mata yang kita rasakan.
Celakalah baginya yang tak bersyukur bahkan bagi yang sampai kufur nikmat, sebab jalan hidup berkejaran dengan ajal (maut), bukanlah kemegahan akhir dari segalanya, tapi kematian lah kenyataan akhir dari kehidupan ini.
Angkuh, sombong dan takabur hanyalah pemanis buatan yang kadang tanpa harus di paksa nurani berkata buat apa aku lakukan itu jika harus ada yang membuat gundah.
Iya.....! Hidup itu bukan untuk meratap dan terlalu berbangga diri, hidup hanyalah untuk bergerak sebagaimana sunnatullah, yaitu berdoa ihktiar dan berdoa. Maksud darinya saat engkau hendak kluar dari rumah mu untuk menjemput rezeki maka awali dengan basmalah, setelah kembali pulang ke rumah membawa hasil kerja atau tidak membawa sama sekali maka akhiri dengan hamdalah dan sikap taeadhuk.
Maka disitulah tentram yang sebenarnya. Sebab ukuran bahagia dan sedih itu terlalu nisbi untuk di nilai manusia, sebab bahagia dan sedih ibarat maut bisa hadir dalam setiap saat tanpa dinyana.
Maka akan sangat dan terlalu arogan jika kita menganggap orang yang kaya dia bahagia dan yang miskin dia sengsara. Jika di cerna dengan seksama ternyata setiap kita punya kotak sedih dan bahagia masing-masing dan dari kotak itu sendiri akan ada kadar nikmat yang tak akan mampu di ukur oleh akal.

Jumat, 19 Juni 2020

Masa yang tak akan ingkar




Masa yang tak akan ingkar.
Bukan tentang rasa yang membuat aku binasa
Ini hanya ungkapan hati tentang peristiwa dalam suatu masa.
Masa yang pernah merasa ada leluasa yang pada kenyataannya itu adalah dosa.
Dosa yang bisa membuat kuasa murka tak terhingga.
Bersyukurlah engkau ada dalam golongan (umat) Rasulullah SAW. Dimana tidaklah tunai mendapatkan balasan akan dosa yang yang engkau perbuat dalam merajut asa.
Iya.......!!!!! Bertaubat ucap mudah tapi harus memaksa dalam keterpaksaan, sebab mata dan hati kadang tak mampu menahan kejamnya peradaban yang menyuguhkan kelezatan-kelezatan yang sesungguhnya hanyalah sesaat untuk kau sesat dalam siasat.
Sesat yang akan membuat mu terouruk dalam pedih abadi, sebagaimana peringatan-peringatan dari sang esa dalam lembar-lembar suci yang dalam detik waktu selalu menjawab ragam peristiwa di negeri fana.
Bahkan lembar-lembar suci tak sedikit menuntun insan untuk melepaskan diri dari belenggu dosa.
Wahai insan jadikan peristiwa sebagai irama untuk menuju Roma, jadikan peristiwa sebagai pemasung kemewahan surgawi dan jadikan peristiwa sebagai bentuk abdi terhadap ia yang maha suci.
Oh.....! Insan janji tuhan tidak pernah luput, janji tuhan akan selalu membuat engkau patut dan janji tuhan akan membawamu dalam raut bahagia yang tiada tara.
Tak sedikitpun insan akan menyesali peristiwa taqwa bilamana ia menjadikan diri ini sebagai panorama indah disaat alam mulai gelap, murung dan terpuruk dalam dalam kehinaan.
Semua itu hanya ada satu organ yang akan berkata, inilah kebenaran yang sebenarnya, inilah janji yang pernah engkau ucap saat mendapatkan tiupan ruh dan inilah jalan yang sesungguhnya yaitu jalan yang lurus (ihkdinas syiratal mustaqyim) jalan yang di ridhoi dan sangat di benci oleh syetan dan sank familinya, ia organ itu adalah nurani (nurun qalbu).
Wassalamu'alaikum wr wb.
                                                          Al faqir
                                                 Khoirus shodiqin

Sabtu, 02 Mei 2020

Cinta dalam makna




Makna cinta, cinta tak bermakna.

Terciptanya manusia suatu kesengajaan, sengaja tuhan ciptakan dalam bentuk Adam dan hawa, dari kedua bentuk manusia itu Tuhan menakdirkan adanya otak dan rasa, rasa untuk saling mencintai dan mengasihi. Yang mana cinta dan kasih itu membutuhkan perjuangan untuk mampu menciptakan harapan menjadi kenyataan yaitu benih dari cinta dan kasih.
Tentu kita anak manusia mengamini akan kisah Adam dan hawa yang membutuhkan waktu yang sangat panjang untuk bisa kembali bertemu dan membina ikatan cinta hingga lahirnya anak Adam dan hawa, yaitu keberadaan kita saat ini.
Iya hemat penulis tidak dalam rangka untuk menelisik sejarah ataupun pandangan tentang posisi Adam dan hawa saat di surga dan lalu di turunkannya ke muka bumi ini, akan tetapi lebih pada bagaimana sikap kita mengambil ibrah dari perjalan panjang keduanya, yang mana di pisahkan dalam waktu yang sangat lama untuk bisa kembali berjumpa, nah waktu panjang itulah yang di dalamnya menjadi roman antara Adam dan hawa.
Kisah cinta yang abadi sehingga terciptalah tatanan cinta dalam lembaga hidup Bani adam seperti saat ini. Maka kita selaku manusia keturunan nabi Adam, tidaklah harus menganggap mudah saat berbicara tentang hati yang mana hati itu sendiri merupakan mesin penggerak dalam mencintai dan mengasihi. Di dalam hatilah tempat cinta dan rasa antara laki-laki dan perempuan.
Cinta bukan hal baru dalam ruang kehidupan, cinta merupakan cara dan wujud lama, akan tetapi selalu terasa baru dari waktu, hari, tahun, abad dan hingga berakhirnya kisah hidup manusia, dengan cinta manusia mampu bijaksana, mampu menjadi wibawa, mampu menjadi jenaka dan bahkan ada sebagian karena cinta manusia menjadi gila.
Cinta tak lebih ibarat pisau dengan sang bijak dan pembajak, jika pisau berada di tangan orang manusia yang bijak maka akan berfungsi untuk memotong sayur, mencincang daging ayam dan sapi dan mengupas semua kebutuhan untuk memenuhi hasrat manusia lainnya yang mencintai kelezatan santapan hidup. Namun jika pisau berada di tangan pembajak, bisa saja pisau itu berfungsi untuk memotong tangan, menusuk perut yang tak berdosa dan menghilangkan nyawa tanpa hak, yang mana tujuan dari pembajak hanyalah untuk memenuhi hasrat individu sedangkan manusia lainnya harus merasakan luluh lantak ya kelezatan hidup karena harus mengalami nestapa.
Tinggallah kita menentukan apakah kita akan menjadi bijak dalam cinta ataukah menjadi pembajak cinta. Kesemuanya kembali pada individu yang mencintai dan dicintai, tanpa harus memaksa cinta untuk sempurna, karena cinta memang tidak akan pernah sempurna. Cinta hanya memposisikan dirinya sebagaimana pemiliknya.
Merupakan ketidak Adilan apabila kita mengalami kegagalan dalam cinta lalu menyalahkan cinta, sebab cinta tidak pernah mengisyaratkan suatu penyiksaan, cinta hanya akan selalu mengarahkan pada rasa syahdu dan manisnya kisah, cinta tidak akan pernah menyiksa karena siksaan hanyalah buah kemarahan sedangkan kemarahan lawan dari cinta ialah buah dari kebencian.
Maka dia yang gagal dalam cinta tidak harus lantas menyalahkan cinta, tapi dialah pemilik cinta yang tak mampu mengungkap kebenaran akan cinta, kebenaran akan indahnya kandungan cinta, kebenaran akan tirakat-tirakat cinta yang mutlak membutuhkan pengorbanan, jiwa, raga bahkan harta, karena cinta tanpa pengorbanan makan ibarat jiwa tanpa raga. Sehingga beradaan cinta tanpa pengorbanan ibarat raja tak bertahta.
Dengan begitu bagi kita yang mengerti hati dengan cintanya akan senantiasa berusaha untuk menjaga cinta itu untuk hati yang menampakan hadirnya keindahan tanpa adanya penghianatan yang menimbulkan penistaan. 

Minggu, 22 Maret 2020

Manusia kerdil




MANUSIA KERDIL
Kubaca dengan seksama lalu kurangkai dalam satu gerak pena diatas kertas, disaat itulah aku tuangkan apa yang ada dalam pikiranku, menjadikan pikiran sibuk sesibuk tabib saat meracikan obat untuk orang yang sedang mengalami sakit dan mengeluhkan sakit itu padanya.
Tentu tabib harus begitu sangat hati-hati meracik satu obat dengan obat yang lainnya yang dia yakini akan menjadi petunjuk sebab untuk kesembuhan sakit yang dialami oleh orang yang datang dan minta bantuan padanya. tangan tabib haruslah lihai dan mampu merasakan sakit orang yang ada dihadapannya, karenanya nalurinya harus senantiasa bersinergi dan begitu dekat dengannya karena kesembuhan orang tersebut adalah kebahagiaan bagi tabib dan kemanusiaan.
Kemanusiaan merupakan nilai tertinggi dalam setiap peristiwa kehidupan, karena tanpa kemanusiaan kehidupan tidak akan pernah berarti dan bernilai, hamparan bumi yang luas, gunung, langit, laut,bintang gemintang, bulan Dan segala yang terlihat kasat mata tidak akan pernah berarti apabila manusia mengingkari kodrat kemanusiaannya.
Kodrat yang dituntun nurani untuk welas asih dan penuh rasa kasih sayang kepada seluruh mahluk yang sama bahkan tidak sama dengan dirinya manusia, akan sangat aneh apabila manusia merasa begitu jumawa akan otaknya dan isi yang ada di dalamnya, yang sampai menyiksa hatinya untuk bersikap tega untuk merendahkan dan menistakan alam sekitarnya, menciptakan rasa sakit dengan kesengajaan karena akalnya mengukur manusia lainnya tidak sama dengan pikiran dan kehendaknya.
Sedangkan nilai-nilai akal dan daya pikirnya tidaklah akan mengalami perbedaan yang sangat signifikan, mengingat diri kita adalah trah nisby terbatas dan terkendala karena adanya kendali Dari yang maha adidaya (tuhan). Manusia yang pintar sebenarnya dia yang semakin tidak tau atau bodoh, bodoh untuk menyombongkan diri, bodoh untuk menyakiti orang lain, bodoh untuk membodohi orang lain dan bodoh dalam segala hal yang sekiranya tidak mengarahkan dan menuntun dirinya pada jalan ketuhanan yang maha pintar, maha bijaksana dan maha dari segala maha.
Manusia yang bodoh tersebut akan menjadikan dirinya sebagai insan yang dianggap pintar oleh organ yang lainnya tanpa harus memeinta pengakuan dan mengharapkan pengakuan dari manusia lainnya sebab akan dengan sendirinya, dirinya akan mendapatkan singgasana megah dihati para hayawanun natiq yang lainnya, oleh karena. baiknya manusia adalah meninggikan nilai dan penilaian terhadap manusia yang hakiki, tidak membuat kabur dengan memudahkan lisan untuk memfitnah karena timbulnya rasa iri, dengki dan dusta dalam hatinya, dan mempermudah diri untuk membuang wajah Yusuf dari ingatannya karena satu kesalahan dengan menghilangkan seribu kebaikan yang pernah ia lakukan.
Dengan cara itulah rotasi hidup dirinya dengan alam akan terus seimbang dan akan terjauhkan dari perasaan takut untuk disaingi dan bahkan akan selalu rela untuk diasingkan oleh manusia lainnya selama tuhan tidak mengasingkan dirinya.
Betapa ruginya jika ia manusia selalu berusaha untuk mencari kesalahan manusia lainnya, berusaha untuk menistakan dan membuat manusia lainnya seolah-olah dusta agar mendapatkan kezaliman. Padahal orang yang sedang mendapatkan kezaliman dari manusia lainnya baik disengaja atau tidak disengaja tuhan akan memberikan skala prerioritas dalam keluh kesah hatinya dan munajatnya terhadap Tuhannya. Tidak akan satu menitpun tuhan untuk tidak menunjukkan rasa cintanya pada manusia yang meringkuk dalam kesedihan yang di peroleh dari tindakan dzalim manusia.
Tidakkah kita selalu mawas diri untuk menjaga diri kita dan keluarga kita dari murka Tuhan dengan imbalan siksa neraka yang sangat pedih, tidakkah kita merasa betapa tidak layaknya apabila kita berusaha untuk menjaga dengan cara merusak hak-hak orang lain, sedangkan diri ini selalu dalam doa semoga ada dalam entitas hidup yang selamat dunia dan akhirat, predikat selamat seperti yang disebutkan hanya bisa kita dapatkan dengan cara mengamalkan Assalamualaikum wr wb, yaitu mendoakan dengan sesegera mungkin terbalas keselamatan itu pada dirinya.
Tuhan akan senantiasa menjaga manusia yang menjaga persaudaraan, cinta dan kasih sayang terhadap sesama, akan sangat merugi manusia yang hanya mengukur kebahagiaan dengan ukuran harta dan kemegahan dunia yang kamuflase, akan sangat menderita sang raja yang kikir sehingga ia diperbudak oleh singgasana megahnya dan betapa menakutkan apabila hati dikalahkan oleh akal yang cendrung mengarah pada usaha untuk mencelakakan manusia yang lainnya. Baiknya memohon petunjuk dan perlindungan pada Tuhan agar kita tetap bisa menjaga hati dan rasa yang terkandung di dalamnya, agar kita bisa merasakan kebahagiaan saat saudara kita mendapatkan kebahagiaan dan merasakan sedih saat saudara kita di rundung kesedihan. Sebab manusia yang bagaimana dan seperti apapun sama-sama memiliki kadar kesedihan dan kebahagiaan yang sama nilainya, begitupun cara senyum dan canda tawanya, tidaklah akan ada perbedaan karena dia kaya raya saat harus merasakan kebahagiaan ketawanya ada di dahi sedangkan si miskin tetap dibagian mulutnya, dan begitupun kesedihan karena dia sedih dan harus menangis karena dia kaya menagis di kepala bagian belakang sedangkan si miskin di tempat seperti biasanya, tentu tidak semuanya sama cara bahagia dan sedihnya.
             

Jumat, 20 Maret 2020

Hanya Rabb

Entah apa yang akan terjadi? Tanya ini aku akui selalu hadir setiap saat, karena nama itu tidak berpangku dalam fikir. Tapi sudah terpatri dalam hati.
Hati yang tak bisa bohong betapa cinta dan rindunya perasaan, ingin rasanya aku jamah nama dan pemiliknya, tapi apalah daya negeri kita jauh sangat berbeda. Tak seluas samudra dan sesempit daun kelor tapi nyatanya tabir tebal sulit tuk di tembus.
Hati dan hari ini terbelenggu, belenggu keresahan, nama yang terselip dalam riuh angin siang dan malam, kurasa sangat dekat tapi begitu sulit aku raba dengan jemari, karena engkau lenyap dalam kedip mata dan begitu nampak dalam lelap tidur.
Hati janganlah engkau meronta ketakutan, karena engkau begitu banyak hak untuk selalu menasbihkan namanya kalaupun engkau tak diizinkan bercengkrama dalam dingin malam. Hati biarkan dia terdiam diantara rimbun dedaunan dan bunga-bunga kasmaran, tapi janganlah engkau merasa takut dan iba karena tak mampu menyunting bunga untuk hiasi nama dia.
Hati jadikan tetapkan dia berada di dalammu karena dia adalah dia, dia yang tak akan pernah lekang oleh waktu, dia nama yang engkau kuasai dan hanya selalu bermunajat akan memiliki pemiliknya, hati tetaplah tunduk dalam cahaya harapan karena pemilik hati dan nama yang sesungguhnya pasti akan ada rencana indah.

Rabu, 18 Maret 2020

Rindu tak bertepi

Mengapa rindu ini mendera
Tak perlu terkisahkan dalam naskah tebal yang harus tertata rapi di atas rak buku, karena itu tak mungkin harus terjadi.
Perjalan cinta adalah pelajaran terindah, karena disana kita temukan ragam peristiwa yang bahagia dan bahkan kecewa yang bisa saja bergantian menghantam dinding hati yang tak boleh mati karena duka.
Lirih terbersit dalam relung hati, yang tak dapat di mengerti apakah harus menjadi sajak bijak ataukah hanya akan menjadi rangkaian kata yang habis dalam rentan masa. Entah semua masih mesteri dari penguasa misteri, yang seolah meminta untuk percaya dalam berani ataukah hanya cukup tunduk dalam takut karena kutukan masalalu, ialah kutukan cinta majnun yang harus mencintai dengan hati yang meringkuk dalam peluk bayang semu.
Dia yang telah terpuruk dalam rindu, rindu yang membeku dan membuatnya terpaku, dia yang mengerti warna saat peristiwa semakin menggila, iya peristiwa menggila yang namanya cinta, cinta yang tak kan pernah binasa karena harus kuasa, begitulah cinta yang akan membuatnya terperosok dalam rona-rona bahagia.
Dia harusnya menjadi yang terindah tapi riuh rendah yang membuat dia enyah karena bentang panjang jarak yang memaksa kita untuk tidak bersatu dalam raga tapi tetap menyatu dalam jiwa, jiwa yang harus selalu tenang dalam dalam ikatan cinta dan rindu yang terpisah oleh waktu. Dia izinkan dia untuk memeluk dan mencium keningnya dalam bayang mata terpejam.

Sabtu, 14 Maret 2020

Nisbi dan sirna




Tanpa alasan yang tak harus kamu cari tahu jawabannya, karena sinar mata dan senyum itu sudah memberi jawaban.
Tanpa alasan dan tak perlu aku tunggu anggukan kepala mu karena dengan merah merona pipi yang membuat samar-samar lesung pipimu aku mulai sedikit mengerti, bahkan hampir banyak.
Dengan jawaban mu aku telah terperosok dalam relung jiwa yang tak lagi jumawa akan kodrat masuia yang angkuh, kadang angkuh iblis tak secuilpun mampu menandingi.
Diam saja tak perlu ucapkan kata, alunkan nada dan menggesek biola untuk kamu gambarkan hatimu dalam suasana.
Diam saja dan membisulah lalu kamu biskan pada angin, bahwa dalam hatimu telah hadir gemuruh yang menyuruhmu runtuh melebur dalam cinta.
Diam saja tak perlu kamu langkahkan kaki mu untuk memetik sekuntum bunga, biarkan bunga itu tetap dengan kumbang yang sudah menikmati madunya. Karena aku tak butuh bunga dan madu di dalamnya, aku hanya butuh tangkai yang selalu setia menyanggah kelopak dan sari bunga yang di nikmati kumbang sebagai peghilang dahaga.
Bergeraklah dan berkata, aku akan selalu bersama mu walau dalam isyarat gelap malam temaram.

Ilma kompas dan pembebas dari kebatilan

 Ilma aku berjalan tertatih menuju mu dengan penuh keterbatasan, berjalan telanjang kaki menapaki panas aspal saat terik tengah hari demi me...