Tanpa alasan dan tak perlu aku tunggu anggukan kepala mu karena dengan merah merona pipi yang membuat samar-samar lesung pipimu aku mulai sedikit mengerti, bahkan hampir banyak.
Dengan jawaban mu aku telah terperosok dalam relung jiwa yang tak lagi jumawa akan kodrat masuia yang angkuh, kadang angkuh iblis tak secuilpun mampu menandingi.
Diam saja tak perlu ucapkan kata, alunkan nada dan menggesek biola untuk kamu gambarkan hatimu dalam suasana.
Diam saja dan membisulah lalu kamu biskan pada angin, bahwa dalam hatimu telah hadir gemuruh yang menyuruhmu runtuh melebur dalam cinta.
Diam saja tak perlu kamu langkahkan kaki mu untuk memetik sekuntum bunga, biarkan bunga itu tetap dengan kumbang yang sudah menikmati madunya. Karena aku tak butuh bunga dan madu di dalamnya, aku hanya butuh tangkai yang selalu setia menyanggah kelopak dan sari bunga yang di nikmati kumbang sebagai peghilang dahaga.
Bergeraklah dan berkata, aku akan selalu bersama mu walau dalam isyarat gelap malam temaram.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar