Assalamualaikum wr wb, selamat berkreasi, dan beristirahat untuk saudara seiman dan beriman. Izinkan pada kesempatan ini saya menyapa anda sekalian dengan sapaan persaudaraan, sapaan cinta dan kasih dan sapaan untuk selalu mensyukuri atas segala nikmat yang berikan oleh Allah Tuhan kita sekalian. Yang perlu kita sadari bahwa kita manusia hanyalah bentuk fana yang dalam hitungan waktu kita akan rasakan hal yang paling kita butuhkan yaitu rasa sehat dan lapangnya waktu.
Yang masih muda dan punya banyak kesempatan untuk menata hidup guna menjemput takdir maka perlulah kiranya untuk mengelola sehat dan waktu sebaik dan semaksimal mungkin, tentu harus tetap berpegangan pada entitas tertinggi manusia iyalah sabar. Tidak benar harus berputus asa dan menyalahkan suatu peristiwa yang pernah terjadi karena buah dari kelalaian, baiknya dijadikan sabagai media instrospeksi diri agar baik dan lebih baik dari hari kemarin.
Karena hari kemarin adalah hari penuntun untuk mengantarkan kita pada ruas jalan yang sesungguhnya entah jalan yang terjal dan berkelok dan ataukah jalan yang lurus dan baik untuk menyelamatkan kita dari kepedihan.
Dari peristiwa yang lalu. Tidak harus menafikkan peristiwa-peristiwa yang lain. Namun pada kesempatan ini saya akan mendorong untuk berfikir secara khusus untuk belajar dari masa lalu, mempersiapkan perjalanan masa depan dan menikmati jalan yang sedang kita lalui, Arif dan bijak bilamana kita mencatat sejarah bapak dan ibu kita. Karena beliau-beliaulah petunjuk yang sesungguhnya tentang hidup kita, utamanya pelajaran tentang tabah dan sabar yang mungkin kita tidak akan sabar bilamana itu di timpakan pada kita. Logika gampangannya, saat kita masih di bangku sekolah diceritrakan tentang kejamnya masa penjajahan dan kejamnya rezim.
Iya mungkin waktu itu yang tergambar betapa berkeringatnya para pahlawan yang tercatat dalam buku sejarah, tapi saat ini kita tinggikan nilai perjuangan para pahlawan dengan syurah Al Fatihah, dan mari kita juga sejenak berfikir dan seolah ada pada peristiwa itu dan berfikir bagaimana kondisi kakek, nenek, ibu dan bapak kita waktu itu
Tentu akan terbayang betapa pilunya hidup dimasa itu yang mana hidupnya harus berlindung di gubuk reyot bersama rasa takut akan serangan penjajah yang sesekali bisa saja menghantamkan granat dan menekan pelatuk senjata apinya.
Selain takut akan serangan ketakutan yang paling nyata takut untuk makan apakah esok lusa dan seterusnya, mengingat hasil bumi dan pekerjaan hanya milik bangsawan para penjajah dan rakyat hanyalah buruh kasar dan bahkan hanya difungsikan sebagai romusa, maka di gambarkan kurus kering dan bahkan ada yang harus mati kelaparan, karena dengan keterpaksaannya hanya makan dedaunan yang hijau bahkan ada yang sudah menguning, faforitnya adalah Aking (singkong yang di potong kecil-kecil dikeringkan).
Sungguh beliau para pendahulu kakek dan nenek, begitupun bapak dan ibu kita benar sudah menjalankan amanat Al Qur'an untuk melawan rasa jhu' (lapar) khauf (takut) dengan tetap berpegang teguh kepada keyakinannya yaitu tetap yakin bahwa Allah lah yang akan senantiasa menciptakan kesedihan menuju kebahagiaan dan akan menciptakan kehidupan menuju kematian. (Al faqir, khoirus).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar