Garis jalan terus aku susuri, tak berharap ada duri tapi pasti kerikil aku harus terka dengan kaki telanjang yang mungkin akan terluka. Luka dalam suka dan luka kadang membawa duka.
Bagiku itu semua bukan penghalang untuk tetap menjemput asa masa demi masa. Karena aku kadang merindukan masalalu tapi bulu kuduk ku berdiri tegak karena disana ada goresan bahagia yang menasbihkan dosa, dosa yang mungkin seribu manusia juga akan rasakan tapi satu manusia yaitu aku yang harus merasa binasa dan putus asa apabila tak berusaha memohon ampunan.
Kini semua sudah menuju senja, garis Mega merah di ufuk barat mulai menyingsing teratur menunjukkan gelap akan menjemput, matahari telah sirna datanglah bulan sebagai penghias bersama bintang gemintang.
Aku yang tak seperti dulu saat menjemput malam sehabis berlarian, becanda ria, bercengkrama bahkan sampai tak mengenal waktu. Kini aku berbeda, jalan ku mulai semaking terjal malamku bersama dingin angin malam yang tubuh tak lagi kebal menerima kehadirannya, sebentar saja tak ku kenakan kain tebal maka tubuh akan terasa hangat dan dahakpun menjadi pengiring.
Aku yang mulai masuk senja binar mata dan gerak bibir tak lagi pantas untuk menikmati dosa. Karenanya pantas aku yang sudah mulai menuju senja berbuatlah kebaikan menuju sang rabb
Tidak ada komentar:
Posting Komentar