Kamis, 12 Januari 2023

372 dan 340 dst, angka yang bisa buat kita sengsara, maka hindari

setiap kita adalah mahluk yang diciptakan oleh tuhan dengan kesempurnaan akal, dengan akal itu sendiri kita diwajibkan untuk sadar bahwasanya keberadaan kita adalah sebagai mahluk sosial. sosial yang dimaksudkan tidak lain ialah memahami bahwa dalam keseharian kita harus saling bersinggungan antara manusia satu dengan yang satunya lagi dan terkecuali dengan mahluk ciptaan tuhan lainnya. nah bersinggungan jangan dikonotasikan negatif akan tetapi harus berimplikasi positif, seperti halnya saling bahu-membahu (gotong-royang), saling tolong-menolong antara yang lemah dan yang kuat. sebab bilamana sikap itu tidak tercipta maka barang tentu akan terjadi yang namanya ketimpangan, timpang dalam arti kata tidak seimbang, ada sikap kooptasi, kolusi, nepotiesme bahkan bisa jadi upaya-upaya yang bisa merampas hak dengan cara menyakiti. bisa-bisa sampai menghilangkan nyawa seseorang maudzubillahimindzalik. semoga diri kita akan dijauhkan dari sikap-sikap tercela tersebut. karena apabila hal itu terjadi pada kita "tercela". maka kita tidak pelak akan duduk dikusrsi pesakitan berhadapan dengan penguasa meja hijau yaitu hakim. nah bilamana hal itu terjadi maka tidak lain kita harus mempertanggung jawabkan setiap apa yang kita lakukan yaitu dengan membayar dengan dikurung yang lamanya sesuai dengan apa yang kita lakukan. bilamana kita melakukan kejatan pencurian maka pasal 372 KUHP akan tersemat pada nama dan badan dan terus bersama hingga akhir hayat sampai kita bisa membuktikan bahwa tidak akan lagi mengulangi perbuatan yang sama apalagi lebih. dalam bahasa lain yaitu bisa membuktikan kalau sudah bertaubat. adapaun kurungan yang lebih menyakitkan dan menyedihkan lagi yaitu bilamana seseorang yang melakukan perbuatan 340 KUHP dst. impikasi dari pasal itu yaitu hukuman maksimal mati atau sekurang-kurangnya kurungan selama 20 tahun lamanya, hal ihwal akan membuat pelaku akan menyesali apa yang telah ia perbuatnya. dari uraian diatas yang perlu penulis sampaikan semoga kita terhindar dari sikap-sikap tercela sehingga kita akan terhindar pula dari ancaman hukuman Undang-undang berlaku dinegara kita indonesia. tujuannya apa? tidak lain agar kita bisa hidup damai dan tentram bersama keluarga dan sanak family.

Senin, 03 Oktober 2022

Laga satu dihentikan satu pemain merumput di taro’an

taro'an 03/09/22. pertandingan sepak bola yang biasa di gelar setiap sore di lapangan taro'an tlanakan pamekasan, berlangsung seru dan sengit, mengingat karena kehadiran pemain laga satu yang tidak mau disebut namanya. dalam pertandingan sore hari itu, club Acakoy futsall club (AFC) yang digawangi oleh umar selaku pelatih, captian sekaligus presiden club, terlihat tidak begitu semangat, selain karena kehadiran salah satu pemain laga satu, juga karena habis lari jauh yang jaraknya 5000 m. dalam pertandingan AFC terlihat tidak berkutik. karena pemain yang tidak mau disebut namanya begitu lincah menggiring bola dan tercipta 2 gool dari kakinya. gool pertama tercipta di 5 menit pluit ditiup, tanpak terlihat kecewa dari wajah sporter AFC, karena belum lama pertandingan berlangsung sudah di tundukkan oleh kaki pemain yang tidak mau disebut namanya, kekecewaan sporter blom pupus, ternyata faruk dan fauzen pemain AFC yang dieluh-eluhkan oleh clubnya, tampil tidak expresif akhirnya gol kedua terjadi. hingga turun minum scor bertahan 2 - 0, yang membuat pemain AFC dan sporter AFC hampir naik pitam, dan terpaksa pemain laga satu masuk ruang ganti. sedangkan puput selaku captain teame dari orang ganteng futsall club (OFC) berkata "pemain AFC memang tidak seberapa, khususnya pemain yang bernama faruk dan fauzen, itu pemain yang kurang jamu". pungkasnya.

Senin, 29 Agustus 2022

Kembalilah pada petunjuk Allah

sebut aku buruk, iya karena aku sadar bahwa hidup adalah penghakiman dari orang lain. karena diri sendiri hanya bisa angkuh dan sombong. sulit untuk mengakui kesalahan. iya karena diri sendiri hanya selalu dikungkung oleh nafsu yang cendrung angkuh-seangkuh angkunya. memang sudah sunnatullah kedudukan nafsu menjadi barometer dalam menentukan langkah hidup baik atau buruknya. sebab bukan malaikat yang memang tidak ditakdirkan untuk bernafsu sehingga malaikat hanya bertugas untuk bestahbih dan bertahmid sebagaimana perintah Allah. tidak akan pernah sedikitpun ada pembangkangan dari malaikat, adapun nafsu yang disebutkan meamang bagian sentral manusia dalam mengarungi kehidupan yang menjadi barang tentu setan dan iblis selalu mencari peluang untuk mengajak kepada hal buruk. untuk itu manusia baiknya berhati-hatilah dalam memilih dan mengikuti kehendak nafsu, jika manusia tunduk dan patuh pda kehendak nafsu niscaya ia akan hina, sehina-hinanya baik di dunia dan akhirat kelak. terturlah dalam hidup janganlah menunda untuk memilih jalan menuju Allah sebagaimana firmannya di dalam kitab suci Al qur'an, sebab jika kita kembali dan ikut pada perunjuk Allah maka ketenangan dalam hidup akan tercapai. jalan hiduppun akan berkelindan penuh dengan perdamaian kalaupun tidak bergelimangan harta. karena apabila dipikir secara cerdas, pada kenyataannya harta bukanlah harta yang menjamin kebahagiaan, bahkan tidak sedikit hanya dibuat tersiksa olehnya, dengan adanya perdebatan, pertengkaran dan pengingkaran jika harta hanya dijadikan bagian dari ambisi nafsu dengan tidak mematrikan keyakinan bahwa harta dan dunia seluruh isinya hanyalah titipan dari Allah.

Minggu, 14 Agustus 2022

Menangislah karena kau tak baik

tuhan terimakasih masih diberikan kesempatan untuk menghirup udara segar. dari udara yang terhirup kami masih bisa membenakan rasa tenang, nyaman, bahagia, gelisah dan sedih. waktu yang bergulir menjadi hakim dalam setiap niat langkah dan keputusan dalam setiap tindakan. tentu kelak akan menjadi penentu yang bijak adil- seadil adilnya ketika ruh tak lagi dikandung badan dan bersemayam didalam liang yang gelap mencekam bagi ia yang celaka. ber-hatilah, karena hati akan membawa kita pada hati-hati yang penuh dengan empati, akan benci keburukan, akan benci penistaan, dan akan sangat menghindari penindasan. sebab satu hati dengan hati yang lain bilamana tidak dikuasasi oleh nafsu sepenuhnya, ia akan berkata keinginan ku tidak berbeda jauh dengan hati yang lainnya, sama-sama ingin mendapatkan kebahagiaan karena telah membersitkan senyum dari bibir pemilik hati lainnya. iya....lakukan apa yang baik menurutmu dan dikehendaki oleh mereka. tentu di ridha'i oleh tuhan. karena benih baik yang engkau tebar, sebelum kiamat datang hal yang paling dekat ialah agar orang lain menangis saat engkau di jemput kematian. kata bijak pendahulu "ketika engkau datang dari rahim ibu disambut dengan rasa bahagia, maka berupayalah engkau diantarkan dengan tangis saat engkau tak lagi bernyawa dan terbujur kaku".

Sabtu, 13 Agustus 2022

Menyulam gelap malam

aku pemuda peltong menyongsong mimpi dengan menitihkan kaki di pematang sawah. merajut asa melalui rasa dari peristiwa tak jumawa. mata terbelalak mengejar cita sisa sia-sia nestapa iya aku pemuda peltong yang tak lagi mampu mengaung layaknya bunyi tong yang kosong negeriku kini asri namun berduri, widuri tak lagi mampu berlari mengejar sisa mimpi berilah aku sisa kata yang tak berkosa kata, nada tak lagi berirama, cinta tak lagi mengihitung rasa. peluklah bayang ku yang tak bersemayam dalam rinai malamnya alam.

Jumat, 12 Agustus 2022

Terimakasih pemerintah RI yang baik hati

 2019 awal mula munculnya wabah yang dikenal dengan sebutan covid 19, untuk penjelasan nama tersebut. Penulis rasa sudah tidak perlu untuk dijelaskan, karena pada dasarnya itu sudah menjadi pengertian umum karena sering diperbincangkan pada mulanya.

Akan tetapi yang jelas di angka 19 wabah itu seolah masyarakat menganggap penyakit ringan yang mudah untuk diobati, padahal pemerintah dari berbagai lini mengumumkan jika penyakit tersebut merupakan ancaman bagi jiwa setiap manusia, sampai-sampai terperinci tentang batas-batas resiko rentan dan tidak rentan untuk terjangkit.

Tapi begitulah masyarakat disuasana demokrasi, maka persepsi masih harus di tuntasnya dengan argimentasi, dilanjutkan dengan asumsi bahkan bisa-bisa berakhir pada basa-basi.

Tapi bukan dalam wilayah ingin menyalahkan demokrasi, hanya saja lakonnya yang tidak bisa memposisikan dirinya sebagai peegang amanah azas demokrasi. Alhasil terkesan bablasan keluar jalur lintasan yang seharunya.

Kembali kepada angka 19 yang hubungannya sangat erat dengan penyakit, di angka itu memang tidak begitu membuat keadaan kalang kabut, sebab masyarat pada umumnya masih belum terdampak langsung. Hanya dibeberapa bagian wilayah saja, yang itu masih dianggap hoax saat ada acara perbincangan santai di warung kopi, akan tetapi pada kenyataannya saat mulai merasakan langsung keberadaan wabah, dengan datangnya berita kematian dalam setiap harinya bergantian, baru masyarakat percaya dan menuruti anjuran pemerintah.

Selain sadar karena banyaknya berita duka, ternyata dampak yang sangat signifikan yaitu lumpuhnya perekonomian yang sangat mencekam. Mencekam yang dimaksudkan yaitu ekonomi lumpuh disemua sektor, tidak memilih ruang makro bahkan mekropun ikut juga lumpuh dan bahkan bisa dikatakan mati suri.

Tapi alhasil berkat ketelatenan pemerintah dengan menerapkan aturan PPKM, yang awalnya diterima setengah hati oleh masyarakat. Tapi berkat tekat pemerintah dalam peraturannya yang terus digencarkan dengan ragam panismen pula. Alhasil diangka 2022 masyarakat mendapatkan angin segar, yaitu ekonomi kembali tumbuh berangsur dan masyarakat bisa kembali tersenyum lebar.

Rabu, 10 November 2021

Sekelumit rasa yang tak bersisa

 Pekan hitungan jari yang tak perlu mengernyitkan dahi dan menyatukan garis alis, karena dengan jari tanpa mesin penghitung Hindia Belanda sudah bisa teratasi.

Antara angka satu samapai dengan tujuh begitu bilangan singkat, yang seyogyanya di perintahkan untuk mengikrarkan demi masa dalam firman Allah "Wal asyrih" red Qur'an, begitu berharganya waktu karena di dalamnya terdapat banyak peristiwa.

Peristiwa yang harus kita akui kebenarannya dan kita yakini ke fanaannya, karena waktu adalah hitungan yang berjalan bergandengan dengan ruh, lahir dan akal.

Mengkompilasi jadi satu, butuh meditasi dan elaborasi untuk mengecap hikmah atas segala peristiwa yang ia lalui, dari ruh, lahir dan akal, ada satu yang paling mendominasi yaitu nafsu, nafsupun terbagi menjadi dua yaitu baik dan buruk.

Tentu tentu para jiwa-jiwa yang tenanglah yang bisa memilih pijakan Arif, pijakan untuk menentukan arah dan tujuan dari langkah yang tertatih.

Beruntunglah ia yang cendrung untuk menyemai senyup dan mengungkap derita menjadi cita masa, masa yang harus baik untuk kebaikan yang jauh lebih baik.

Dan tepuruklah bagi ia yang haturkan sedih tangis dan raungan nestapa hingga derita menjadi senja yang habis di lumat gelap setiba malam menjemput mentari di ufuk barat.

Jiwa-jiwa yang tentram, berilah ia cinta karena cinta pelipur lara hati bagi negeri yang gersang hanya tumbuh batang kaktus berduri yang mencerabut hati dari manisnya madu.

Ikrarkanlan bahwa hati butuh cinta damai butuh kasih dan rangkulan buah dari leluasanya mahligai.

Senin, 27 September 2021

Negeri ku ngeri.

 Negeri yang mulai ngeri, kadang benar bahwa semakin dewasa tak menjamin mental semakin menua, bahkan kadang semakin kenak-kanakan.

Kenak-kanakan yang dimaksudkan yaitu sikap dan sifat yang tak stabil, suka mengadu dan mengeluh karena takut hargadirinya di rasa akan jatuh.

Padahal itu hanya kritik dan bahkan kritik jenaka semata, mereka yang mengkritik karena karena merasa memang sudah haknya karena sudah kadung memberikan kepercayaan dan curiga sedikit di bohongi dan bahkan dikhianati.

Dapat diartikan mereka yang di kritik cendrung karena iseng, sebab tidak ada pekerjaan. Karena mencari pekerjaan sangat sulit dan kalaupun ada tidak dapat dijangkau karena persyaratan yang ketat dengan syarat-syarat administratif yang sudah legal masih saja harus kembali di legalisir, artinya barang yang sudah sakral masih harus lebih di sakralkan, sebegitu cutigakah pada mereka yang memang sudah lama bertapa di bangku belajar dan berjuang untuk mendapatkan selembar kertas syarat untuk mendapatkan rezeki.

Tapi masih saja iya si iseng dan usil, masih harus menuai cerita kekecewaan, saat semua sudah lengkap sebagaimana melewati hal sakral kembali disakralkan, di perlintasan saja ternyata harus terhenti karena adanya telikung dari pihak-pihak yang tak bertanggung jawab, sehingga harus gigit jari, karena tidak kebagian bangku yang harusnya harga tiketnya murah dan terjangkau menjadi setinggi langit sampai tak tersisa baginya yang hanya memiliki pikiran "pintar" tapi kurang modal, dalam candaan warung kopi, yang anak konglomerat tak boleh melarat, sedangkan si konglomrat cendrung membuat si melarat sekarat.

Namun opsi tersebut tidaklah terjadi pada negeri hari ini, itu adalah propaganda pada orde sebelum 014, entah di tahun keberapa sudah lupa, untuk era kekinian hanya tersisa momok saja, sebab dari himpunan beberapa cerita hari ini si melarat punya peluang untuk jadi konglomrat murni.

Harapannya semoga terus berlanjut untuk merajut negeri yang di cita-citakan, yaitu negeri yang penuh dengan kedamaian dan perdamaian abadi, negeri yang adil dan memberikan rasa makmur bagi mereka yang menghirup udara dan bercocok tanam diatas tanah yang terhampar luas.

Kalaupun hari ini masih banyak kebingungan-kebingungan yang timbul karena sembrautnya informasi, yang tampaknya cendrung saling fitnah. Indikasinya karena kebanyakan dari lakon ingin dinobatkan sebagai yang terbaik, padahal sudah sering di ucapkan oleh guru bangsa almarhum Abdur Rahman Wahid "biar sejarah yang membuktikan". Dalam pemahan awam penulis tidak perlu memaksakan diri untuk menyatakan saya yang terbaik, karena mengacu pada beberapa litaratur ilmu sosiologi. Semakin seseorang mengaku dirinya yang terbaik maka cendrung dia adalah yang terburuk.

Untuk itu di era digital ini akan sangat bahaya jika kita terlalu cepat mengambil kesimpulan atas benar dan salahnya seseorang, jauh lebih dewasa apabila kita melakukan tabayun, atau menghimpun informasi banyak mungkin untuk menghakimi seseorang, sebab bilamana kita gegabah maka kita akan menyesal dan menyatakan oh......ternyata benar dia dan ternyata lebih baik zaman dia.



Sebilah pisau sisakan luka abadi.

Jalan hidup, merupakan trah setiap insan dan mahluk yang bernyawa. Tidak akan pernah lepas dari hak dan kewajiban.
Berjalan beriringan teratur, tidak akan adil jika terdapat ketimpangan di dalamnya, karena ketimpangan hanya akan menimbulkan keburukan yang berimplikasi pada keterpurukan sejati.
Bilamana hal itu terjadi, maka cita cinta untuk mendapatkan kedamaian dan perdamaian hanyalah menjadi angin lalu, angin yang tak memberikan kesejukan. akan tetapi hiruk pikuklah yang akan menjadikan alam pikir ciptakan ketidak Adilan kepada nurani, nurani yang selalu berkehendak tulus (jujur) terhadap entitas alam kasat mata.
Namun apalah daya. Manusia tidak lepas dari belenggu nafsu, akan sangat mustahi jika ada manusia yang menyatakan tidak memiliki nafsu, karena Tuhan tidak pernah ingkar atas janjinya, yaitu manusia bernafsu adapun malaikat hanya di perintahkan tunduk dan patuh atas perintah Tuhan, tanpa harus mengingkari sedikitpun.
Yang hidup di alam fana pastilah bernafsu setidaknya bernafsu untuk makan dengan permulaan rasa lapar dan dahaga, maka timbulnya dua rasa termaksud atas dorongan nafsu (kehendak). Dengan kehendak itu bilamana tidak bisa mengendalikan dengan sungguh akan timbul keniscayaan untuk nista, tidak berharga Dimata manusia dan akan sangat tersiksa di alam baka kelak, ketika nafas tak lagi di kandung badan, memasuki kehidupan alam kubur dan alam pembalasan.
Maka permintaan yang paling pertama kali diminta ialah kembalikan ke alam dunia, sebagaimana yang di dalilkan di dalam firman-nya, tidak lain hanya ingin membuat utuh kehidupan sosial (sedekah) dan menyempurnakan pengabdian terhadap Tuhan (sholat).
Tapi apalah daya semuanya sudah terlambat, terlambat sejak nafas di kerongkongan, dia manusia yang sudah tak bernyawa dan dimakan ulat tanah, merasakan penyesalan karena kesia-siaan yang tak terhingga. 

Jumat, 16 April 2021

Selipkan doa dalam sedihmu, dan biarkan mereka hanya menerka kebahagiaan mu.

 Serupa purnama, terang benderang tapi masih banyak gelap yang terlihat karena itu kodrat sebagai cosmos, iya karena purnama terbitnya di malam hari dan tidak akan pernah mungkin terbit di siang hari.

Sebab apabila di siang hari maka itu bukanlah purnama tapi berubah nama menjadi matahari.

Begitulah kilasan hidup saat ini, banyak diantara kita yang sudah berusaha menjemput kaprah yang kadang sampai melupakan esensi, sorak Sorai kadang hanya pemanis saja yang setelahnya banyak gumam tak indah di dengar telinga.

Bukan karena mereka yang berkeinginan tapi karena dia yang terlalu berlebih menunjukkan kehendaknya yang tak tercapai, tak berusaha untuk menutupi, lalu mentabayunkan dengan bermunajat serta instrospeksi diri.

Pelarian yang ia pilih bukan air yang mengalir membasahi wajah dan sebagian tubuhnya untuk menghilangkan najis kecil yang melekat di tubuhnya (wudhuk), lalu bersegera menuju sejadah dengan memperagakan pengakuan betapa hinanya diri namun angkuh karena rongrongan nafsu.

Tapi pelarian yang ia pilih adalah ujung jempol yang di letakkan diatas layar dengan ukuran beberapa inci saja, lalu ia curahkan seluruh apa yang ia alami seolah itu derita perlu mendapatkan apresiasi dengan mereka menekan simbol jempol dan welas asih dengan kata-kata yang kadang mengantarkan dia pada lamunan yang semakin runyam dan kadang pula ada yang berupaya semakin membuat dia terperosok pada kubangan masa yang mengingkari isyarat Wahyu yang mengatakan perlunya untuk bersabar karena sabar akan mengantarkan pada ke shalehan.

Entah apa karena ia tidak mau di nyatakan sebagai manusia yang tak modern ataukah karena ia terlalu teropsesi sehingga aksi selalu harus dibalas dengan reaksi.

Merugilah ia yang mau menyampaikan kesedihan dan keberhasilan yang ia capai dengan terlalu singkat dan terkesan tak waspada, sebab mendiang guru bangsa selalu menyampaikan biar sejarah yang membuktikan.

Hematnya tidak perlulah menceritakan pada 40 rumah (tetangga) disekitar nya tentang kesedihan yang kamu alami dan keberhasilan yang kamu capai, apalagi sampai engkau umumkan di halayak ramai dalam layar kaca. Karena jika itu ia lakukan maka hilanglah nilai-nilai ibadah dari ikhtiar itu akibat pujian yang berlebih dan munculnya gumam yang menjadi beban anak Adam.

Harap, semoga kami anak Adam yang kini bersuku-suku, berbangsa-bangsa dan sudah bernaung dalam penamaan negara, tidak lagi mudah terprovokasi dan memprovokasi dalam ruang sosial media yang cendrung mengesampingkan rasa karena ingin dirasa.

Kamis, 04 Februari 2021

Masih ingatkah jalan terjal kala di HMI?

 

Memasuki dunia mahasiswa merupakan Rahmat terindah bagi setiap pemuda yang memiliki cita besar dalam hidup menyongsong masa depan,  masa depan yang memang harus berimbang antara angan dan kenyataan. Dan di masa-masa terpelajar (mahasiswa) itulah diri individu harus belajar menempa diri sebagai manusia yang berkomitmen pada tridarma perguruan tinggi dan tridarma mahasiswa.

Dengan begitulah mahasiswa akan selalu melangkah dengan penuh keyakinan untuk mewujudkan masyarakat adil makmur akan tetapi bila berkaca pada keyakinan pribadi (saya sendiri) bilamana kita hanya menempa di bangku kuliah rasanya kurang cukup untuk mendapatkan petunjuk-petunjuk signifikan untuk menghadapi pasca terdidik.

Masuk dan bergabung dalam organisasi ektra kampus merupakan solusi untuk mengantarkan diri kita menjadi lokomotif sosial, ekonomi pro kemanusiaan yang tangguh dan penuh dengan perhitungan demi kepentingan umat dan bangsa. Adapun pilihan-pilihan organisasi yang bisa menjadi gerbong ialah HMI, PMII, GMNI, PMKRI, IMM dan lain sebagainya yang eksis di kampus masing-masing.

Adapun saya sendiri sejak semester 1 di jurusan hukum perdata Islam sekolah tinggi agama Islam negeri Pamekasan, sudah masuk dan tergabung dalam himpunan mahasiswa Islam (HMI) pada tahun 2008 dalam latihan kader satu (LK I) komisariat stain pamekasan, bertempat di yaspimu Kadur Pamekasan lembaga yang di kembangkan dan bahkan sudah maju dalam mensukseskan manusia berpendidikan yang bertanggung jawab atas lembaga tersebut merupakan korp alumni himpunan mahasiswa Islam (KAHMI).

Pelatihan yang dilaksanakan selama 4 hari 3 malam begitu melelahkan tapi sangat memuaskan karena pasca itu saya merasakan perubahan yang sangat signifikan yang paling saya rasakan ialah dalam bersikap dan menghadapi persoalan menjadi lebih totalitas untuk menyelesaikan persoalan dengan memunculkan solusi-solusi yang sama-sama menguntungkan semua pihak.

Perjalan di HMI sangatlah terjal, terkenang dalam benak ku sampai detik ini jalan proses di HMI sejak lulus LK I sudah diberi tanggung jawab untuk menuntaskan persoalan kontrakan yang akan dimanfaatkan sebagai sekretariat,  yang kebetulan bersamaan dengan terpilihlah kawan dekat yaitu Abdul Muid yang terpilih sebagai ketua umum himpunan mahasiswa Islam komisariat stain pamekasan.

Tanggungan sekretariat dan tanggungan untuk melaksanakan pelantikan akhirnya harus menggadaikan speda motor dan berkeliling mencari dana untuk menutupi kebutuhan kedua kewajiban tersebut, selain persoalan dan juga persiapan untuk melaksanakan pelatikan untuk membuat bhaner yang tidak dengan cara di printing karena tidak ada modal, akhirnya harus memanfaatkan kain tabir dengan di tempel nama-nama yang terbuat dari kertas Krip warna-warni, dikerjakan oleh kita dari pagi sampai tengah malam sampai lupa makan, yang unik sampai ada pertanyaan dari kawan Ketum difinitif "iya Ros apa aktivis itu sama Allah di pelihara untuk mati?.

Pertanyaan itu muncul ternyata karena baru ingat kalau kita berdua tidak makan sama sekali karena memang tidak punya uang. Yang ahirnya harus pergi ke rumah salah satu senior yang sangat baik yaitu yunda Nunung panggilan akrab kita kepada beliau, alhamdulilah kalaupun tengah malam dibukain pintu dan dibuatkan mie instan yang ternyata sangat nikmat karena efek lapar upnormal.

Pasca pelantikan melanjutkan jalan hidup sebagai manusia organisatoris yaitu mengemban misi keumatan dalam aspek kecil yaitu mengayomi dan mengimbangi keinginan dan kehendak kawan dan Adek-adek yang turut berproses di dalam sekretariat hasil kerjar tayang yang menyisakan hutang. 

Tapi tenang hutang itupun harus lunas dan sudah lunas motorpun ditebus berkat suport dari senior yang bernama kanda LSM senior yang memang tidak nyentrik tapi baik hati, sulit marah kalaupun kita junior sering memancing biar beliau marah dan ternyata beliau tidak bisa melepaskan diri dari entitas sebagai pendidik.

Kisah-kisah di HMI sangatlah indah dan menjadi motor untuk masa depan, karena apa yang pernah terjadi di masa perkaderan setelah masuk dunia nyata, kejadian masalalu ternyata seolah tidak berbeda jauh coraknya dengan masa itu sehingga solusipun tidak berbeda jauh yang harus kita tuntaskan.

Ini sekelumit saja dan sebenarnya masih banyak cerita-cerita tentang proses masalalu yang suatu saat saya akan curahkan lebih banyak lagi di oretan kertas ini untuk sementara tetaplah berpegang teguh pada lima kualitas insan cinta "terbinanya insan akademis pencipta pengabdi yang bernafaskan Islam atas terwujudnya masyarakat adil dan makmur yang diridha'i Allah SWT". YAKUSA.

Kebaikan tak butuh pembelaan

 Sebegitu hebatnya aku mengejar dunia, kadang sampai lupa waktu dan larut dalam semangat dorongan nafsu, pagi, siang dan malam seolah tak da...