Rabu, 18 September 2024

Rundung rindu yang tak lagi kunjung

lama tak aku datang menjemputmu senyorita, maaf bukan aku melupakan mu, tapi aku hanya terlalu banyak menyibukkan diri khususnya dalam berfikir, iya....!!! berfikir, berfikir dan berfikir..........!!!!! ah.....aku kadang merasa kalau terlalu tolol dan sangat bodoh sebab saat itu kenapa tak berfikir keras saat aku pertama kali berani memandang mata mu lalu aku ucapkan kata sayang, cinta dan lain sebagainya yang saat itu engkau tanggapi sangat serius dan terlalu antusias sehingga kau luangkan hati untuk memberi ruang hingga sesak. senyorita aku tahu betapa kamu resah dan gundah saat aku tak berkabar padamu melalui pesan singkat, chat pribadi ataupun faximale. maaf bukannya aku terlalu percaya diri sehingga begitu meyakini akan kegundahanmu, tapi firasat itu datang begitu pesat sebab hatiku yang selalu bergumul rasa sayang dan cinta begitu melesat sehinggaa tersesat pada wajah cantikmu, mata indahmu dan senyum manis mempesonamu. jujur aku sangat mencintaimu begitulah lukisan suka dan duka ku saat ini dan bahkan hingga kelak pelupuk mata tak lagi sudi membuka, kamu yang begitu membibdadari dalam hidupku dengan binar-binar setia selalu membuatku terperangah dan jengah dalam setiap kehendak melangkahkan kaki dan melambaikan tangan, sebab risalah-risalah cosmos telah begitu mantap menatap ratap dimasa yang akan datang dengan begitu sangat nyata. senyorita kenapa engkau diam?? tidakkah kau mau menatapku tajam lalu berkata dengan begitu kasarnya bahwa aku hanya manusia yang begitu membatu yang tak bersepatu yang mencoba angkuh tapi begitu kalah pada cemooh yang seharusnya menjadi rengkuhan untuk menghafal setiap apa yang tertuduh, tidakkah kau juga berbisik saja agar aku bergeming sehingga ada iming-iming agar kamu bisa merasakan secuil saja sejuk tanpa tajuk yang jelas pada masa depanmu yang dinyakini oleh nya akan suram, muram durja. oh.....senyorita kau tetap tak mau menjawab dan tak bergeliat untuk membisik, hanya diam kaku membatu ternyataaku yang sudah gila sebab tak lagi bisa membedakan wajah aslimu dan topeng yang sudah membuku dalam lembar album yang menatap tajam sedikit tersenyum namun sendu. senyorita kini aku tak lagi lugu, hanya sedikit dungu yang selalu menunggu mu di musium-musium rasa dan peristiwa besar yang dikata cinta. senyorita tidak kah dosa saat rasa tak lagi jumawa dalam gelak dan tawa, tidakkah sia-sia saat kisah indah sisakan keresahan, tidak semuanya tidak berdosa sebab rasa yang dirasa bukan kehendak yang perasa akan tetapi ini kehendak yang kuasa, yang terlalu bagga padahal ia kuasa yang ku_nya kecil, bukan Kuasa yang Ku-nya besar, yang kekuasaannya tak ada tandingannya, yang maha berkendak dalam segala geliat yang hidup dan yang tak bergerak, senyorita janganlah kau titipkan salam pada angin begitupun aku, sebab angin saat ini sudah kalah pada deru riuh mesin super power dan janganlah kau berkisah pada rumput, sebab rumput hari ini sudah terusik kerasnya batako. senyorita bersabarlah sebab sabar adalah kabar indah bagi ia yang merindukan kegembiraan kelak, tawakkallah sebab tawakkal adalah gelak tawa di sisi-sisi indah dalam kehindupan surga, iya teruslah bermunajat agar hajat bisa menjadi derajat dan derajat bisa menjadi hikayat yang mampu sisakan riwayat saat akhir hikayat datang.

2 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. Rinduku padamu tak sedikitpun aku kurangi. Yang ada diri ini hanya bisa melebihi rasa rinduku pada dirimu. Apakh disna dirimu masih menantiku untuk datang kembali. Jika memang itu benar maafkan lah diriku ini dan diri ini sangat malu ketika diriku hanya datang menemuimu untuk bercerita tentang kisahku karena sejak dahulu engkau hanya mendengar kisahku saja

    BalasHapus

Kebaikan tak butuh pembelaan

 Sebegitu hebatnya aku mengejar dunia, kadang sampai lupa waktu dan larut dalam semangat dorongan nafsu, pagi, siang dan malam seolah tak da...