Kamis, 06 Februari 2020

Para malaikat

Adakah pahlawan yang jauh lebih besar jasanya dibandingkan orang tua kita?

Entah apa yang aku cari? Sampai detik ini aku masih juga belum mengerti!! Karena sejak dahulu aku terlatih dengan tertatih, pelajaran yang paling nyata dalam hidup saya, pelajaran tentang kerja keras. Itupun saya peroleh dari seorang lelaki dan perempuan yang dulunya tampan dan cantik, saat ini sudah tampak jelas terlihat keriput di wajahnya.
Laki-laki dan perempuan di masa lalu masing-masing memiliki nama Syamsul Arifin dan Siti Aminah. Bicara sosok bagiku keduanya adalah sok pahlawan yang maha dahsyat dalam mengarungi badai hidup, Syamsul Arifin sejak baru berkumpul dengan siti Aminah dalam ikatan pernikahan sudah mengabdikan diri ke salah satu madrasah Diniyah di desa tambung, hanya dengan modal keyakinan dari wasiat maha gurunya waktu terdidik di Mambaul ulum bata-bata, wasiat yang selalu diingatnya dan diceritakan pada saya ialah "setelah keleuar dari pondok dan mengabdi kepada masyarakat maka setiap yang di terima jangan lantas itu dianggap sebagai gaji dan jangan pernah mengajar pemberian itu adalah imbalan ibarat gaji dari pemerintah, tapi akadlah sebagai uang sabun". Ceritanya, sehingga Syamsul Arifin dalam menjalankan pengabdiannya seolah tanpa beban, karena baginya madrasah bukanlah tempat mencari penghasilan.
Penghasilan baginya adalah jualan es lilin, es Wawan dan krupuk keliling, dan itu benar saya ingat. Syamsul Arifin bapak saya waktu itu mengantarkan es dan krupuk keliling ke rumah-rumah di desa dengan memakai ontel itu tekun dilakoni dari pagi hari sampai jam 11 siang mengingat jam 13.00 wib sudah harus menuju Medan pengabdiannya yaitu di madrasah Diniyah syamratul ulum tambung.
Dari situ Syamsul Arifin diizinkan Allah untuk menciptakan kehidupan anak manusia selanjutnya yaitu terlahirnya KHOIRUS SHODIQIN dari rahim Siti Aminah, perempuan yang tegas dan tidak pernah ada yang ia tutupi dengan apa yang harus ia katakan kepada siapapun selama itu bisa dijadikan nasihat, baginya berkata apa adanya kalaupun terdengar keras tapi memberikan manfaat jauh lebih baik nilainya dibandingkan berkata kalem lemah lembut tapi berpengaruh atau efek sebagai racun, jadi bagi Siti Aminah qulil hakkoh walikana murrhan, adalah sugesti tersendiri, ibu saya Siti Aminah juga memiliki latarbelakang sebagai pendidikan, dahulu beliau pernah menjadi guru saya di pendidikan formal taman kanak-kanak muslimat NU dusun Patemon desa peltong, bisa di mungkinkan ibu menjadi guru TK sejak saya belum lahir, tapi beliau berhenti mengajar sebelum saya tamat TK, karena harus hamil adik saya yang diberi nama KHOIROTUL UMAMAH, ia memutuskan berhenti karena ingin mengabdi kepada keluarga dan ingin membantu para guru dengan mengajari anak di rumah setelah pulang dari tempat belajar formal.
Keduanya bagi saya adalah pahlawan yang tak cukup di kenang dengan hari pahlawan dengan petunjuk tanggal libur nasional (merah) tapi berkewajiban bagi kita untuk mengenang dengan pengorbanan yang tidak akan pernah ternilai setimpal dibandingkan penyapihan, perawatan dan pendidikannya hingga kita mengerti rasanya alam, tantangannya dan multidimensinya kehidupan alam ini, tapi ada medium yang terbaik diisyaratkan oleh agama yaitu mendoakan orang tua dan melanjutkan pekerjaan baik orang tua kita, kita akan mendapatkan syafaat yang insya Allah tak terhingga dari Allah SWT.
Semoga kita sekalian akan menjadi manusia paripurna dalam menyempurnakan kehidupan masa yang akan datang dengan peran insan Kamil, hanief dan paripurna dalam menabur benih-benih kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kebaikan tak butuh pembelaan

 Sebegitu hebatnya aku mengejar dunia, kadang sampai lupa waktu dan larut dalam semangat dorongan nafsu, pagi, siang dan malam seolah tak da...