INGKAR TERHADAP KESALAHAN DIRINYA,
SAMA SAJA
Sumbang, nada yang muncul saat harapan dan kenyataan tak sama, hal itu akan tampak saat dirinya tak menyadari akan keberadaan dan kondisi pribadinya dan hanya suka menilai dan menyalahkan orang lain.
Ibarat pepatah gajah di sebrang lautan tampak jelas sedangkan semut di pelupuk mata tidak terlihat, tapi tak perlu di herankan karena sumbang itu peran utamanya adalah iblis dan syetan yang memang dijanjikan untuk dijadikan warisan bagi anak Adam yang tak mampu menjaga akal dan hatinya, dan tentu juga yang ingkar akan nikmat Allah tentang adanya perbedaan, dan tidak mampu membedakan yang sudah jelas-jelas diciptakan untuk berbeda.
Dari nada sumbang itu sendiri akan cendrung memperosokkan pribadi seseorang pada hal yang sangat pelik dalam mengarungi bahtera hidup yaitu dengan munculkan sikap sombong dan sifat yang angkuh. Kenapa pelik? Karena kesombongan akan memunculkan modharat bagi diri kita, akan sedikit mendapatkan teman bicara yang ada hanyalah lawan bicara tentu akan timbul debat kusir yang satu sama lain tidak mau disalahkan apalagi harus mengakui kekalahan dirinya. Dengan begitu juga akan timbul petaka besar seperti menjatuhkan, memfitnah, berghibah na'udzubillah kadang ada yang sampai saling menghilangkan nyawa satu sama lainnya, sedangkan perilaku semacam itu adalah perlambang and dari fasik bahkan bisa masuk dalam munafikun dan golongan-golongan lainnya yang mengingkari nikmat Allah dan sangat dibenci oleh Allah.
Untuk nada sumbang, sebaiknya kita menjauhi nya karena dengan menjauhi kita akan merasakan nikmatnya rasa dekatnya diri kita dengan ilahi Rabbi, ketika kita merasa dekat dan selalu merasa diawasi olehnya. Kita akan senantiasa merasakan kesejukan dalam setiap langkah kita di ruang terbuka jagat raya ini. Sehingga dalam fihi ma fihi jalaudin Rumi menyatakan, ketika kita meleburkan diri kita kepada maha adil dan penuh kasih sayank, maka nikmat manis madu tidak akan sebanding dengan nikmat manisnya Rahman dan rahim sang maha cinta.
Ketika sang maha cinta kita tancapkan penuh hikmah di dalam kalbu kita maka tidaklah akan khawatir lagi besok akan makan apa, akan hidup bagaimana dan bahkan fana akan senantiasa mempersiapkan diri untuk hadir dalam ajal karena saking menggebunya kerinduan dalam dirinya.
Tidak kah kita benar-benar wajib menyadari, bahwa alam sadar dan alam bawah sadar kita dalam setiap detik tidak bisa menentukan kenyataan akan kekuasaan Allah, mungkin banyak diantara kita yang merencanakan dalam alam fikir untuk menciptakan sesuatu contohnya kue yang manis legit, sedap, motif dan corak yang beraneka ragam sehingga enak di pandang dan nikmat untuk di santap, tapi kadang saat ihktikat dilakukan dengan semaksimal mungkin menurut prasangka kita, tapi setelah akhir dari segala kesempurnaan itu tidak tercapai menjadi sesempurna mungkin, tentu jangan sampai menyalahkan kita dengan ihktiarnya. Karena semuanya semata-mata sudah takdir yang Allah lekatkan pada maksimalnya upaya dan bentuk kue itu itu tidak menjadi sesempurna mungkin, karena hanya Allah-lah pemilik kesempurnaan sejati. Dan kita manusia hanya memiliki ikatan dengan perjanjian pramordial kita sebagai mahluk yang nisbi.
Dari situlah kita seyogyanya terus membaiat diri bahwa akan sangat salah besar ketika kita hanya terfokus untuk berfikir kenapa orang itu membuat suatu kesalahan, sedangkan ia dirinya sendiri tidak pernah berfikir adalah kesalahan dalam diri saya dan seberapa banyak kesalahan ini sehingga kelak saya menjadi sangat pantas mendapatkan balasan dari kesalahan kesalahan yang mungkin sudah tidak akan lagi akal mampu menghitungnya.
Tentunya bilamana kita bisa menggugah diri untuk menghindari tingkat fokus kita untuk mencari dan memberikan just terhadap kesalahan yang orang lakukan dengan sengaja lebih-lebih yang tidak sengaja, acap kali kita akan mampu menciptakan cita-cita welas asih terhadap sesama manusia dan makhluk-makhluk Allah lainnya, yang kesemuanya juga mencita-citakan adanya keseimbangan hidup yang tentram dan sejahtera.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar