Seperti apakah nilai kemanusiaan ku?
Lama tak ku goreskan pena diatas putih kertas, entah, apa karena pena yang telah habis tinta dan ataukah kertas tak lagi bermakna setelah adanya layar sakti yang bisa membekas hitam tanpa harus menggerakkan pena dan tinta yang memang keduanya tidak boleh terpisah.
Ataukah otak ini yang sudah tak menampung alam fikir untuk merangkai kata yang panjang dan penuh makna, karena sudah terlalu asyiknya terperosok dalam mode, mode yang begitu hitam-putih, abu-abu dan bahkan semakin tidak jelas warnanya bagi mereka yang tak buta warna.
Tapi aku sadar bahwa sejak 4 tahun lebih aku lebih menyukai dunia yang begitu menipu hidupku, hidup yang seharusnya ada dalam meditasi menyesali hari kemarin dan berharap hari ini dan esok untuk menjadi baik, lebih baik dan lebih teramat baik, dengan menciptakan karya sebagai sarana ibadah untuk masa depan yang mungkin itu akan bernilai jariyah.
Entahlah?? Hanya bisa berkata mengapa hari itu aku tidak begitu dan tidak begini!!!!!!, Kalau saja aku begitu dan begini. Mungkin saja aku sudah menjadi seorang penghafal dan pengamal Al-Qur'an dengan mendedikasikan diri sebagai mufassir, mungkin saja aku menjadi ahli kimia yang bisa menciptakan nuklir yang kekuatannya melebihi dari mereka-mereka Negera yang juga pernah dan sedang menciptakan. Mungkin saja aku bisa menjadi ahli hukum dengan peran sentral untuk menegakkan keadilan demi tegaknya maslahah bagi setiap insan yang bernyawa tentu dalam hitungan sehari dan semalam selalu Gandrung akan keamanan, ketentraman dan perdamaian sejati, mungkin aku bisa jadi ahli nujum yang bisa meramalkan rotasi bintang, bulan, bumi dan benda luar angkasa lainnya dan mungkin saja aku bisa menjadi ahli farmasi yang bisa mengabari ribuan, jutaan, miliaran dan bahkan triliunan penyakit yang berasal dari ulah manusia itu sendiri tentu atas izin Allah, tapi itu semua yang aku bicarakan hanya mungkin dan mungkin yang tiada akhir dan begitupun itu akan hanya membuat aku lelah dan mengalami kesia-siaan maha dahsyat.
Karena itu hanyalah penyesalan yang tak akan berpangkal apabila diakhiri dengan menyerah, maka dengan begitu aku tidak harus terhenti karena menyayangkan dan meratapi gejala alam kala itu, tapi harus sejak saat ini aku harus bergerak melesat cepat seperti kecepatan cahaya, karena hanya dengan begitu aku akan bisa mengizinkan aku untuk memasuki ruang peristiwa indah penuh dengan kedikjayaan ala fiidzinillah. Karena setiap kita yang berusaha dipastikan akan mendapat hikmah dari usaha itu sendiri tentu dengan ragam persepsi. Tentunya butuh ilmu dan ilmu itu sendiri tidaklah ada tabir, ilmu itu luas luasnya melebihi luas bumi yang sempit ini dan ilmu begitupun pencarinya tidak terbatas pula, sehingga ditegaskan untuk setiap kita manusia memiliki kewajiban mencari ilmu sejak dari kangkangan ibu hingga masuk liang lahat.
Maka kita memiliki hak dan kewajiban untuk mempertahankan harga dirinya dengan memperkuat tameng keilmuan yang tentu bisa mempertinggi nilai-nilai kemanusiaan dengan ihktikat toleransi dan kemajemukan, dengan mempertahankan kearifan diri dengan menunjukkan kebijakan untuk kebijaksanaan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar