MANUSIA
Dunia dan segala isi yang ada di dalamnya memiliki entitas fana yang bersifat limitatif dan nisby. Tidak akan ada yang kekal di dalamnya, semua akan bertemu dengan yang mananya kematian sebab itu akan sangat terasa rugi bilamana kita terlalu mengeluh-eluhkan dengan memberikan posisi totalitas terhadap yang fana dan fitnah.
Berangkat dari fitnah yang di maksudkan maka mari kita renungkan maksud firman Allah bunyi tafsir ayatnya " Hai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barangsiapa yang membuat demikian maka mereka itulah orang-orang yang rugi" (Al munaafiqun : 9).
Kembali pada maksud totalitas diatas maka akan sangatlah kita mendapatkan penyesalan bilamana istri, anak dan harta-harta mu tidak di jadikan media untuk mengabdikan diri kepada Allah, melainkan hanya dijadikan alat untuk meraup keuntungan sementara agar di hormati, membeli jabatan, menghasut dan menghinakan orang lain karena kekayaan dan kedigiayaan di dunia.
Dengan begitu Ibnu ziyad memberikan warning "berhati-hatilah kalian terhadapnya jangan sampai menjerumuskan diri kalian kepada pengabdian yang selain Allah". Karena cendrung istri anak dan harta menjadi nahkoda handal untuk menentukan arah laju kita selama mengarungi samudra hidup, jadi jadilah diri kita masing-masing untuk menjadi pengemudi handal agar selalu melajukan pesatnya pacu mesin iman yang senantiasa mengucapkan lahaulawala quwata'illa billahi hil'aliyilazdim. Karena memang sejatinya tidak ada kekuatan dan kedigiayaan melainkan Allah semata.
Dalam hal ini kita manusia yang dianugerahi nafsu oleh Allah, dan nafsu merupakan pangkal hidup kita dalam mempertaruhkan ruang pengabdian. Bilamana nafsu kita lebih cendrung pada keburukan maka naudzubillah akan sangat sulit rasanya kita akan keluar dan terbebas dari keburukan yang memang sejatinya nafsu buruk itu akan menuntun kita pada yang indah, mewah berlebihan dan keasyikan yang sungguh asyik, tapi ingat itu hanya sementara dan kelak pasti akan mendapatkan balasan "penyiksaan", yang kekal di dalam api neraka.
Adapun itu semua hanya akan berangkat dari rasa hasut, iri, dengki yang akhirnya mendi dendam kusumat, nah dendam inilah yang akan menjadi petaka dan rugi yang membuat kita akan merasakan kebangkrutan kelak, sebab dengan dendam diri kita akan sulit untuk memberikan maaf apalagi berkata maaf.
Dengan tidak saling memaafkan namun selalu menumpuk dalam hati rasa amarah untuk menyakiti dan tidak menerima karena disakiti dengan tidak memberikan maaf maka secara tidak langsung itu akan menjadikan hati dan diri kita sebagai ladang maksiat dan ladang dosa yang tidak berkesudahan.
Dengan begitu apabila kita tetap berada dalam keadaan seperti itu dan meninggal, akan sangat merugikan kita kalaupun kita selama hidup rajin ibadah dan masyhur melakukan amal-amal shalih,iwat sebagaiman riwat sebagai berikut :"Ketika telah habis pahalanya, sementara masih ada yang menuntutnya maka dosa orang yang menuntutnya diberikan kepadanya. Akhirnya, ia pun dilemparkan ke dalam neraka." (HR Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad).dikutip dari Kompasiana.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar