Kamis, 20 Februari 2020

Nahkoda hidup arungi samudera asa

Aku hanyalah mimpi

Biarkan aku ada dalam kubangan mimpi, yang selalu mengganggu ketenangan raga untuk menghadapi hari esok.
Biar aku terdiam di simpang jalan itu, agar aku selalu berfikir bagaimana caranya aku mendapatkan petunjuk arah angin yang mampu mengantarkan aku pada tujuan yang enyah dari kebohongan.
Biarkan aku terkungkung dalam kebodohan, sebab aku tak ingin bangga karena suatu kepintaran yang membuat aku jumawa.
Biarkan aku terisak dalam tangis sebab tawa itu sudah berlalu dan tak tentu dimana letaknya, karena dengan tangis dan tetes air mata yang mengering aku bisa lenyapkan aku dari dahaga yang menguasai dada yang selalu mengada-ngada.
Biarkan aku banyak bicara karena masih aku  punya mulut yang mampu melumat rasa hati dan petualang fikirku.
Biarkan aku gugup dan kaku, karena aku hanyalah manusia yang dibatasi oleh kuasa yang maha kuasa dan akupun kadang tak merasa sehingga dekatlah aku dengan dosa yang seolah aku anggap prosa-prosa para jenaka.
Biarkan aku, biarkan terhenti dalam titik detak nadi abdi untuk sang abadi yang yang selalu Sudi menghadiahi aku Sudi untuk menyesali semua yang terjadi pada diri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ilma kompas dan pembebas dari kebatilan

 Ilma aku berjalan tertatih menuju mu dengan penuh keterbatasan, berjalan telanjang kaki menapaki panas aspal saat terik tengah hari demi me...